Khamis, 22 September 2011

6 pesanan untuk bakal penghuni syurga


dakwatuna.com - Betapa indahnya ketika berbicara tentang surga. Dan tahukan engkau apa itu surga? Surga adalah rumah tinggal yang abadi yang menjadi tujuan setiap hamba Allah yang shalih. Surga adalah pusat aspirasi semua hamba Allah. Surga adalah di atas apa yang kita lihat, di atas apa yang kita dengar dan di atas apa yang muncul dalam pikiran manusia,
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 107-108:
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, (*) Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya. (QS Al-Kahfi: 107-108).
Rasulallah SAW bersabda, sebagaimana disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dari hadits riwayat Abu Hurairah, (Allah berfirman, Aku telah mempersiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih surga yang (kenikmatannya) belum pernah ada mata yang telah melihat, dan tidak pernah ada telinga yang telah mendengar maupun telah terdetik di hati manusia).
Dengan kasih Allah dan rahmat-Nya kepada kita,  Dia telah membentangkan gambaran surga yang nikmat itu, dengan menekankan keabadian dan kesempurnaan, tanpa kekurangan sedikitpun, tidak panas atau dingin, tidak lelah dan tidak sibuk dengan hiruk pikuk, tak ada kerugian, tidak ada yang dicurangi. Sekali teguk kenikmatan di surga melupakan semua penderitaan dalam hidup ini. Timbul pertanyaan, mengapa semua ini diceritakan wahai hamba-hamba Allah? Hal ini semata untuk mengajak orang-orang beriman ke surga dengan penuh semangat. Agar mereka bergegas menuju berbagai kebahagiaan, taman dan segala istananya.  Sebab surga adalah tempat tinggal yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya sendiri, dipersiapkan sebagai rumah untuk orang-orang yang dicintai-Nya agar mengisinya dengan rahmat, kemuliaan dan ridha-Nya. Dia menggambarkan kenikmatannya sebagai kemenangan besar, pemiliknya sebagai raja diraja, segala kebaikan dan kemurniannya dijaga dari setiap cacat dan kekurangan. Celakalah jiwa-jiwa yang tidak menginginkan hal itu, tidak ingin melihatnya, dan tidak berusaha untuk masuk ke dalamnya!
Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk merenungkan hadits-hadits Nabi SAW yang terkait langsung dengan mereka yang dijanjikan surga, seraya berdoa kepada Allah agar kita dimasukkan surga bersama keluarga dan kerabat kita semua. Tak ada surga kecuali dengan berusaha menggapainya.
Pesan Pertama: Kisah Abu Bakr dan amalan-amalan baiknya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata: “Rasulullah SAW berkata, Siapa di antara kamu yang berpuasa hari ini? Abu Bakar menjawab: “Aku”. Dia bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang telah mengikuti pemakaman hari ini?” Abu Bakar berkata: “Aku”. Dia berkata lagi, “Siapa di antara kalian yang memberi makan orang miskin hari ini? Abu Bakar berkata, “Aku”. Dia bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Aku”. Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Jika terkumpul seluruh amalan seperti di pria ini, niscaya ia akan masuk surga”.
Diriwayatkan dari Abd al-Rahman bin Abi Bakr,  dia berkata, “Rasulullah SAW shalat subuh, kemudian bertemu dengan para sahabatnya”. Dia berkata: “Apakah ada di antara kalian yang hari ini berpuasa? Umar bin al-Khattab menjawab, “Ya Rasulallah, aku tidak berniat puasa, maka pagi ini aku berbuka (sarapan).” Abu Bakar berkata, “Kalau aku, sejak semalam sudah berkata pada diriku sendiri untuk puasa, maka aku puasa.” Rasulullah SAW kemudian bertanya lagi, “Apakah ada di antara kalian hari ini yang menjenguk orang sakit? Umar berkata, “Ya Rasulallah, kami shalat dan berdoa denganmu, bagaimana kami dapat menjenguk orang yang sakit?” Abu Bakar berkata: “Aku mendengar bahwa adikku, Abdul Rahman bin Auf, merintih maka aku mencari cara untuk bisa mengunjunginya ketika aku datang ke masjid, Rasulullah SAW bertanya lagi, “Sudahkan ada di antara kalian yang bersedekah hari ini? Umar berkata, “Ya Rasulallah, kami kan shalat dan  berdoa bersamamu dan tidak sempat istirahat.” Abu Bakar berkata: “Ketika aku masuk masjid di tengah jalan kujumpai pengemis, di tanganku ada segenggam roti yang kudapat dari Abdurrahman, aku berikan kepadanya”. Rasulallah SAW kemudian bersabda, “Aku beri kabar gembira untukmu (Abu Bakar, termasuk ahli) surga.” Umar menggumam, “oh…oh… oh… ahli surga.”
Pesan Kedua: Utsman radhiallahu anhu dan Infaq.
Diriwayatkan dari Tsamama bin Hazn al-Qusyairi, radhiallahu anhu, dia berkata: Aku menyaksikan Peristiwa Dar (yaum al-dar), ketika mereka, penduduk Madinah, memuliakan Ustman untuk bercerita amal-amal baiknya di hari itu. Ustman berkata: “Tahukah kalian bahwa ketika Rasulallah sampai ke kota Madinah, dan tak ada cadangan air (di kota itu) kecuali sumur milik Raumah. Rasulallah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membelinya dan menjadikan embernya dan ember kaum muslimin masuk ke sumur itu, niscaya baginya surga? Aku membelinya dari harta tabunganku. Hingga hari ini, aku larang diriku sendiri untuk meminum air dari sumur itu hingga aku harus minum air laut. Mereka menjawab, “Ya”. Utsman berkata lagi, “Dan dengan memuji Allah dan mengagungkan Islam, tahukah kalian bahwa (suatu hari) masjid itu sudah sempit dengan jamaah, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mau membebaskan tanah si fulan, niscaya diberikan kebaikan baginya dari masjid itu hingga ke surga, aku membelinya dari hartaku. Hingga hari ini aku cegah diriku untuk shalat dua rakaat di masjid itu”. Mereka berkata, “Ya”. Ustman berkata lagi, “Dengan memuji Allah dan mengagungkan Islam, Tahukan kalian bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang membekali tentara, niscaya wajib baginya surga. Maka aku berikan perbekalan (pada tentara). Mereka berkata, “Ya Allah, ya benar”. Ustman berkata lagi, “Dengan memuji Allah, Tahukah kalian aku  dulu berada di gunung Tsabir di pinggir kota Mekah bersama-sama dengan Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar, maka tiba-tiba gunung terguncang, sehingga batunya berjatuhan ke dasar, Rasulullah SAW menghindar dengan kakinya, dan berkata: “Tenanglah wahai (gunung) Tsabir. Sesungguhnya, di dekatmu ada seorang Nabi, seorang yang jujur dan dua orang yang menjadi syahid. Mereka berkata, “Ya”. Ustman berkata, “Allah Akbar, saksikanlah aku agar kelak masuk surga, wahai tuhan pemilik Ka’bah. Ia berucap tiga kali.
Pesan Ketiga: Terjaga dengan ibadah di waktu malam:
Salah seorang tabiin (generasi setelah sahabat Nabi) berkata, saat itu mereka tengah merindukan surga dan para bidadarinya, “Aku akan membeli seorang bidadari dari sekian banyak bidadari surga dengan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu malam, aku tidak akan tidur sampai aku selesai khatam tersebut.” Dia sudah mengkhatamkan sebanyak dua puluh Sembilan juz, lalu rasa kantuk menyerang hingga ia tertidur. Dalam tidurnya ia mimpi bertemu bidadari, dan sang bidadari berkata berkata,
Apakah engkau akan meminang bidadari sepertiku, dan engkau tertidur. Sementara orang yang mencintaiku, aku haramkan tertidur. Karena aku dicipta untuk setiap orang yang banyak melakukan shalat dan rajin bangun malam. Mendengar itu, ia terbangun, dan langsung melanjutkan usahanya, dan ia kemudian berkata: Dengan izin dan rahmat Allah, aku akan berusaha untuk mendapatkan semua ini, untuk mendapatkan salah satu dari bidadari itu.
Abu Sulaiman Aldarini – belas kasihan Tuhan – suatu kali tertidur pada suatu malam malam, dia dikenal sebagai ahli ibadah, seorang yang zuhud, dan tulus kepada Allah, dan ketulusan dengan Tuhan, Yaman itu sendiri, termasuk surga yang penuh kenikmatan. Pada suatu malam dia berkata, tidur dan diri kadang-kadang berbicara tentang apa yang Anda inginkan dan apa yang ingin Anda dan termasuk cinta – berkata: Aku melihat – sebagaimana yang sering dilihat oleh orang tengah tidur, suatu kali bidadari datang kepadaku dan berkata: “Inikah perbuatan orang-orang shalih?” “Wahai Abu Sulaiman – Apakah engkau tertidur dan aku telah menunggumu sejak lima ratus tahun”. Tidak ada Tuhan selain Allah; Sejak itu, ia tak lagi tidur kecuali hanya sedikit saja, hal itu dimaksudkan agar ia sungguh-sungguh bertemu dengannya.
Pesan Keempat: Bilal bin Rabah, radhiallahu anhu dan wudhu:
Bilal adalah bujang yang bekerja pada Abu Bakar, semoga Allah senang dengan dia. Ia termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam, karena itu ia dihukum oleh kaumnya dan mereka memaksanya untuk bersaksi “Tuhanku Latta dan Uzza”. Namun, Bilal tetap teguh berkata, “Ahad… ahad…”  Datanglah Abu Bakar dan membebaskannya dari perbudakan dengan membelinya seharga tujuh (sebagian mengatakan lima) kantong emas. Rasullah SAW kemudian menyatakannya sebagai manusia merdeka. Maka, sejak itu Bilal menjadi muadzin Nabi, baik saat berdiam di Madinah atau saat berperjalanan.
Abu Hurairah RA berkata: Suatu hari Rasulullah SAW beserta Bilal: “ceritakanlah padaku satu pekerjaan yang dilakukan dalam Islam memberikan manfaat, aku mendengar Nabi SAW mengatakan ia sudah mendengar suara sandal Bila di surga. Bilal menjawab, aku tidak mengerjakan apa-apa, kecuali menjaga wudhuku hingga seringkali aku shalat maghrib dengan wudhu shalat dzuhur.”
Pesan Kelima:  Di mana tokoh seperti Abu Dahdah sekarang?
Abu Dahdah, nama lengkapnya adalah Tsabit bin Dahdah al-Anshari, salah satu pelaku sejarah perang Uhud dan menemui kematiannya pada perang tersebut. Diriwayatkan dari Jabir bin Samrah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Betapa banyak decak kekaguman untuk Abu Dahdah di surga”. Dan diriwayatkan oleh Imam At-Tabrani dalam kitab Al-Awsat  (2/517)  dari hadits Umar dengan lafadz, manakala ayat Allah SWT turun, “barangsiapa yang memberikan pinjaman kepada Allah sebaik-baik pinjaman” Abu Dahdah berkata, Ya Rasulallah, apakah kita harus meminjamkan Allah dengan harta kita?”. Rasulallah SAW menjawab, “Ya.” Dia berkata: Sesungguhnya aku punya dua dinding (lantai), satu di atas, satu lagi di bawah.. Aku telah meminjamkannya untuk Allah.
Pesan Keenam: Tidak Ghibah ( mengumpat )
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “bahwasanya ada seseorang bertanya, Ya Rasulallah, si fulan dikenal banyak melakukan shalat dan puasa, hanya saja dia selalu menyakiti tetangga dengan lidahnya. Rasulallah bersabda, “Dia di neraka.” Orang tersebut bertanya lagi, “Sementara ada juga si fulanah dikenal sedikit saja shalat dan puasanya sebab dia sibuk memberi makan sapinya, dan dia tidak mengumpat tetangganya”. Rasulallah SAW bersabda, “dia di surga”.

catatan : aku ambil drp dakwatuna.com jd bahasanya loghat indon...

Selasa, 20 September 2011

tipu daya syaitan terhadap ahli ibadat - Mujahid al-faqir ( cahayamukmin )


1. Syaitan melarang manusia, agar jangan taat kepada Allah. Orang-orang yang dipelihara Allah, akan menolak ajakan itu dan akan berkata:

* Aku sangat memerlukan sekali kepada pahala dari Allah, kerana aku harus mempunyai bekal dari dunia untuk akhirat yang kekal abadi.

2. Bila pujukan pertama tidak berhasil, maka syaitan mengajak manusia untuk mengakhiri taat; nanti saja atau kalau sudah tua, dan sebagainya. Orang-orang yang terpelihara akan menolak ajakan itu dan akan berkata:

* Ajalku bukan pada tanganku; jika aku menunda-nunda amal hari ini untuk esok, maka amal hari esok bila akan aku kerjakan, padahal tiap-tiap hari dan waktu mempunyai amal tersendiri dan hak hukum waktunya.

3. Kadang-kadang syaitan akan mendorong manusia supaya terburu-buru mengerjakan amal baik dengan amat segera dan katanya: Ayuh' cepat-cepat beramal supaya engkau dapat memburu lagi amal lainnya. Orang-orang yang selamat tentu menolak dan berkata:

* Amal yang sedikit tapi sempurna lebih baik daripada amal banyak tetapi tidak sempurna. Dalam hal Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda dengan maksud:

"Tergopoh-gopoh itu pembawaan dari syaitan, kecuali dalam lima perkara;

+ 1. Mengkahwinkan anak perawan jika telah sampai waktunya.
+ 2. Membayar hutang jika sudah sampai janjinya.
+ 3. Menguruskan mayat bila datang ajalnya.
+ 4. Menghormati tetamu di kala ia datang bertandang.
+ 5. Bertaubat setelah mengerjakan dosa.

4. Syaitan itu lalu menyuruh manusia supaya mengerjakan amal baik dengan sempurna sebab kalau tidak sempurna nanti dicela oleh orang lain. Orang-orang yang terpelihara tentu menolaknya dan akan berkata;

* Untuk saya cukup dinilai oleh Allah sahaja dan tidak ada faedahnya beramal kerana manusia. Ini adalah isyarat supaya manusia Riya' dalam amalnya.

5. Setelah itu syaitan menancapkan perasaan dalam hati orang yang beramal dengan mengatakan; Betapa tingginya darjatmu dapat beramal sholeh dan betapa pula cerdikmu dan kesempurnaanmu. Orang-orang yang baik akan menjawab:

* Bahawa semua keagungan dan kesempurnaann itu kepunyaan Allah, bukan kekuatan atau kekuasaan aku. Allahlah yang memberi taufiq kepadaku untuk mengerjakan amal yang Ia redhoi, dan memberikan ganjaran yang besar dengan anugerah kurniaNya. Jika sekiranya tanpa kurnia Allah, maka apalah harganya amalku ini dibandingkan dengan banyaknya nikmat Allah kepadaku, di samping dosaku yang banyak pula.

6. Setelah jalan kelima gagal, maka syaitan mengajukan jalan yang keenam. Jalan ini lebih hebat dari yang disebut tadi, dan tidak akan bisa selamat terhadapnya kecuali orang yang cerdik dan hidup fikirannya. Syaitan itu berkata, membisikkan di hati manusia:

"Bersungguh-sungguhlah engkau beramal, jangan diketahui oleh manusia sebab Allah jualah yang akan menzhohirkan amalmu nanti terhadap manusia dan akan mengatakan bahawa engkau adalah seorang hamba Allah yang ikhlas". Syaitan itu mencampur-baurkan terhadap setiapa orang yang beramal dengan amal tipuannya yang lemah sekali. Dengan ucapannya itu, syaitan bermaksud untuk memasukkan sebahagian daripada penyakit Riya'. Orang yang terpelihara oleh Allah akan menolak ajakan syaitan itu dengan mengatakan;

* Hai Malaun (yang dilaknat) tiada henti-henti engkau menggodakaku untuk merosakkan amal dan ibadatku dengan berbagai-bagai jalan dan {sekarang engkau berpura-pura seolah-olah akan memperbaiki amalku, padahal maksudmu untuk merosakkannya. Aku ini hamba Allah dan Allahlah jua yang menjadikan aku. Kalau Allah SWT. berkehendak menzhohirkan amalku atau menyembunyikannya; dan kalau berkehendak menjadikan aku mulia atau hina, ini adalah urusan Allah. Aku tidak gelisah apakah amalku itu diperlihatkan oleh Allah kepada manusia atau tidak kerana itu bukan urusan aku sebagai seorang hamba Allah.

7. Setelah gagal syaitan itu menggoda dengan jalan keenam, maka ia menggoda lagi dengan jalan ketujuh dengan mengatakan; "Hai manusia..tidak perlu engkau menyusahkan dirimu untuk beramal ibadah, kerana jika engkau telah ditetapkan oleh Allah pada masa azali dan dijadikan makhluk yang bahagia, maka tidak menjadi mudorat apa-apa bagi engkau untuk meninggalkan amal, engkau akan tetap menjadi seorang yang bahagia. Sebaliknya jika engkau dikehendaki Allah menjadi orang yang celaka, maka tidak ada gunanya lagi engkau beramal dan tetaplah engkau celaka".Orang-orang yang terpelihara oleh Allah tentu akan menolak godaan ini dengan mengatakan:

* Aku ini seorang hamba, berkewajipan menurut perintah Tuhanku. Tuhan Maha Mengetahui , menetapkan sekehendakNya dan berbuat apa saja yang dikehendakiNya. Amalku tetap akan bermanfaat, walau bagaimanapun keadaanku. Jika aku dijadikan seorang yang seorang yang berbahgia, aku tetap perlu beribadah untuk menambah pahala, dan jika aku dijadikan seorang yang celaka, aku tetap harus beramal ibadah, supaya tidak menjadi penyesalan bagi diriku meninggalkan amal itu.
* Jika sekiranya aku dimasukkan neraka, padahal aku taat, aku lebih senang daripada jika dimasukkan neraka kerana aku maksiat. Tetapi tidak akan demikian keadaannya kerana janji Allah pasti terjadi dan firmanNya pasti benar. Allah telah menjanjikan kepada siapa yang beramal taat kepadaNya akan diberi ganjaran. Siapa-siapa yang meninggal dunia dalam keadaan beriman dan taat kepada Allah, tidak akan dimasukkan ke dalam neraka dan pasti akan dimasukkan ke Syorga. Jadi masuknya, seseorang ke Syurga bukanlah kerana kekuatan amalnya, tetapi kerana janji Allah semata yang pasti dan suci.

Oleh kerana itu, sedarlah wahai hamba Allah, semoga Allah memberi rahmat kepadamu, sesungguhnya urusan taat kepada Allah seperti yang engkau lihat dan dengar bahawa banyak sekali godaan dan tipuan syaitan untuk menggagalkannya. Qiyaslah segala urusan dan tingkah laku kepada keadaan tersebut, dan bermohonlah pertolongan kepada Allah agar engkau dilindungi dan dipelihara dari kejahatan syaitan ini, kerana segala sesuatu benda di bawah kekuasaan Allah dan kepada Allah kita mohon Taufiq untuk mendapatkan keredhoanNya.

TIDAK ADA DAYA UNTUK MENINGGALKAN MAKSIAT DAN TIDAK ADA KEKUATAN UNTUK MENGERJAKAN TAAT, KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH YANG MAHA LUHUR DAN MAHA AGUNG
Add caption

Khamis, 15 September 2011

Detik Rasulullah S.A.W menerima wahyu Pertama..


Detik Baginda terima wahyu pertama


Al-HARIS bin Hisyam telah bertanya kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah, bagaimana wahyu itu mendatangi kamu"? Maka berkata Rasulullah: "Kadangkala wahyu itu mendatangi saya seperti dengungan loceng, dan ia adalah yang paling berat ke atas saya, maka apabila wahyu itu putus daripada saya, dan saya telah ingat daripadanya apa yang dia katakan. Dan kadangkala malaikat hadir menyerupakan dirinya sebagai seorang lelaki, maka dia berkata-kata kepada saya, dan saya ingat apa yang dia katakan."
"Berkata Siti Aishah r.a: "Dan sesungguhnya saya telah melihat, turun ke atas Rasulullah akan wahyu, pada suatu hari yang sangat sejuk, maka ia pun putus daripadanya, dan sesungguhnya dahi baginda benar-benar mengalirkan peluh. (riwayat al-Bukhari)
Hadis-hadis di atas adalah sebagaimana yang disebutkan pada keluaran lalu bagaimana Rasulullah SAW menerima wahyu. Wahyu, perkataan bahasa Arab yang berasal daripada perkataan awha bermaksud inspirasi daripada orang lain atau arahan seseorang.
Sebagai umat Islam kita memahami dengan jelas bahawa wahyu itu merupakan ayat-ayat al-Quran yang diturunkan (Nuzul al-Quran), iaitu kata-kata perintah Allah kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya.
Terkeliru
Tetapi kita jangan sama sekali terkeliru apabila dalam ajaran Nasrani yang kononnya hendak mengangkat martabat wahyu itu dengan hujah bahawa tidak dinamakan wahyu itu dengan Allah hanya berkata-kata atau dengan lain perkataan; that God must speaks for Himself!
Seperti yang diambil dari Laman Web; answering.islam. org. Mereka berhujah; "Kita mesti sedar bahawa Allah tidak boleh mewahyukan Dirimya hanya dengan perkataan-perkataan sahaja. Di sini Dia mewahyukan keterangan berkenaan Dirinya maka Dia mestilah mempunyai keperibadian dan kehendak. Mewahyukan Dirinya secara "terbuka" dan "pendedahan" dan ini hanya akan berlaku apabila tubuh disediakan untuk Dia".
Lantaran itu Nabi Isa kononnya dikatakan berkata; "Barang siapa telah melihat Aku, telah melihat Bapa" (Johanes 14:9) Ini menjadikan wahyu itu dikatakan sempurna kerana ia tidak sekadar kata-kata kecuali wahyu itu adalah secara terus menerus langsung daripada Tuhan.
Tidak mustahil hujah seperti ini dikatakan logik dan akan 'termakan' oleh kalangan umat Islam itu sendiri, tetapi kita perlu menyedari al-Quran bukannya seperti kitab Injil yang boleh didapati dalam versi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Namun, apa yang kita miliki hari ini merupakan al-Quran yang menempuh satu perjalanan yang sangat panjang dan ajaibnya, seluruh kandungan kitab itu tetap bersih daripada sebarang penyelewengan. Tidak ada tokok tambah, jauh sekali daripada kata-kata manusia di dalamnya!
Ini terjadi kerana Rasulullah sendiri tidak membenarkan hadis itu ditulis ketika baginda masih hidup kerana khuatir terkeliru atau bercampur gaul dengan ayat-ayat al-Quran yang masih diturunkan kepada baginda.
Wahyu merupakan satu sumber daripada pelbagai sumber bagi mendapatkan ilmu dan kedudukannya sebenarnya adalah paling teratas kerana ia sangat bersifat ketuhanan (divine). Lantas bagi seorang manusia biasa seperti Nabi Muhammad menerima wahyu itu, pada asalnya adalah tidak mudah.
Malah untuk berhadapan dengan malaikat Jibrail itu sendiri dan seluruh proses penurunan wahyu pertama ini telah menyebabkan baginda menganggap dirinya gila! Ini apabila kita tidak mempunyai jiwa yang besar dan kuat, tidak akan ada sanggup memikul beban kenabian itu dengan syarat pertamanya, diaturkan pertemuan dengan 'seorang' malaikat!
Terbangun dengan ketakutan
Penulis sejarah Islam terkenal, Hussein Haekal menulis selepas Jibrail menyampaikan surah pertama, al-Alaq itu baginda Nabi Muhammad terus terbangun dengan ketakutan dan kebingungan. Baginda dikatakan benar-benar tidak dapat menafsirkan apa yang telah berlaku kepada dirinya.
"Adakah ini semua khayalan sebagaimana kebanyakan penyair yang berkhayal dan bercakap seorang diri yang sering ku sifatkan sebagai orang gila?," ujar baginda.
Sebenarnya tidak wajar untuk baginda berasa takut kerana sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq bahawa wahyu pertama itu datangnya dalam keadaan baginda berjaga dan di waktu siang.
Walau dalam banyak kisah yang kita dengar sebelum ini Rasulullah dikatakan segera keluar dari Gua Hira' dan untuk terus pulang ke rumah.
Tetapi Haekal dan Al Mubarakfuri mencatatkan sebaik sahaja baginda keluar dari Gua Hira' itu, satu sinar terang menderang memancar di hadapan baginda. Ini diikuti satu suara memanggil baginda; "Hai Muhammad! hai Muhammad! Kamulah Rasulullah dan aku adalah Jibrail!," berulang kali.
Baginda yang mendongakkan kepala ke langit iaitu arah datangnya suara itu dan baginda dapat melihat dengan jelas malaikat Jibrail dalam rupa seorang lelaki dengan kedudukan kedua-dua kakinya berada di ufuk langit.
Jika pada gambaran pada mata kasarnya bagi menunjukkan betapa 'luar biasa' malaikat Jibrail yang merupakan hamba Allah yang paling setia pernah tercipta oleh-Nya.
Namun baginda yang masih ketakutan itu memalingkan mukanya ke arah lain bagi tidak mahu berhadapan dengan Jibrail namun demikianlah hebatnya ciptaan Allah ini, Jibrail tetap kelihatan di mana-mana arah yang cuba baginda berpaling darinya itu. Ke kiri atau ke kanan, Jibrail tetap dalam keadaan berdiri di hadapan baginda.
Haekal menyebut; "tetapi rupa malaikat yang sangat indah itu tidak juga lalu dari depannya".
Lalu baginda tidak dapat berundur atau maju ke hadapan kecuali terpaksa berhadapan dengan malaikat itu malah dikatakan baginda terdiam kaku dengan agak lama di luar Gua Hira' itu.
Sehinggalah malaikat Jibrail menghilang lalu Nabi Muhammad tersedar dan menyambung semula langkah untuk segera pulang ke rumah.
Jika kita berada dalam keadaan yang seperti dilalui oleh baginda, maka jawapannya tentu sama, jantung berdegup dengan kenyang dan seluruh badan menggeletar!
Sebaik sahaja tiba di rumah, baginda disambut oleh Siti Khadijah yang sebelum ini begitu bimbang dengan keselamatan suaminya itu sehingga menyebabkan beliau menghantar orang untuk mencari di Gua Hira'.
"Wahai Abu Qasim, ke mana engkau pergi? Demi Allah aku telah menghantar orang untuk mencari engkau sehinggalah mereka mencari mu ke Mekah dan pulang ke rumah dan memberitahu tidak menemui mu di mana-mana," kata Siti Khadijah.
Tetapi baginda terus mendakap paha isterinya dan meminta supaya dirinya diselimutkan. Siti Khadijah segera menyelimutkan baginda kerana mendapati tubuh suaminya itu menggigil seperti seseorang yang sedang demam kuat.
Setelah ketakutan baginda beransur reda lalu baginda menceritakan kepada Siti Khadijah apa yang telah dialami dan dilihatnya sebentar tadi. Namun baginda lebih menyatakan kebimbangannya, semua yang berlaku di Gua Hira' itu tidak lebih terpedaya oleh hatinya sendiri atau akan tidak lebih dianggap seperti ahli nujum pada pandangan orang lain.
Sebagai isteri, Siti Khadijah tidak sedikit pun curiga dengan kata-kata suaminya itu. Lalu beliau meminta supaya baginda berehat untuk melelapkan mata dan Siti Khadijah sendiri kemudiannya bangun meninggalkan Rasulullah menuju untuk menemui seseorang.
Ikuti kisah selanjutnya di keluaran akan datang.

 

Kisah Musa, Khaidhir

Bersama:MOHD. YUSOF ABAS
SOALAN: SAYA membaca cerita Nabi Musa berguru dengan seorang hamba Allah yang soleh. Adakah cerita itu benar-benar berlaku sedangkan Nabi Musa adalah Nabi besar dari kalangan ulul azmi, manakala Khaidhir pula seorang saleh biasa yang dikurniakan ilmu dari Allah. Apakah cerita sebenarnya dan apakah pengajaran daripada cerita ini?
– Mohd Rizal Mohd Said,
Kuala Langat, Selanggor.
JAWAPAN: Ya! Cerita tersebut memang tercatat dalam al-Quran pada akhir surah Al-Kahfi yang bermula dari ayat 65-82. Dikatakan (dikisahkan) Nabi Musa pada suatu hari ada berkata bahawa dialah manusia yang paling alim. Lalu Allah mahu mengingatkanya bahawa ada lagi orang lain yang lebih alim daripadanya selain Allah. Iaitu seorang hamba-Nya yang dikurniakan ilmu daripada-Nya. Orang ini dikatakan bernama Khaidhir. Lalu Nabi Musa ingin bertemu dan belajar dengan hamba itu. Dan bila Nabi Musa bertemu dengannya, baginda pun berkata bolehkah aku mengikutimu untuk belajar.
Jawab Khaidhir: Boleh, tetapi dengan syarat bila kamu ikut aku maka jangan bertanyaku sesuatu sehingga aku bagi tahu kamu jawapannya. Dan kamu tidak mampu bersabar denganku , bagaimana boleh kamu tahan sabar terhadap perkara yang kamu tidak dapat memahami rahsianya.
Ringkas ceritanya: Mereka pun berjalanlah sehingga sampai di satu pelabuhan dan terpaksa menaiki kapal. Apabila kapal itu tiba di destinasinya penumpang pun turun lalu Khaidhir tidak terus turun malah mengambil kapak dan melubangkan kapal tersebut. Nabi Musa pun hairan, kenapa kamu rosakkan kapal ini yang telah membawa kita semua dengan selamat. Sedangkan anak kapal tersebut sangat memuliakan mereka berdua. Sepatutnya kita semua terhutang budi dengan mereka, kamu telah lakukan kerja bodoh. Maka jawab Khaidhir bukankah aku kata, yang kamu tidak mampu bersabar denganku. Kemudian jawab Musa ia terlupa dan iapun memohon maaf. Lalu mereka meneruskan perjalanannya dan bertemu dengan anak-anak yang sedang bermain lalu Khadhir menangkap budak itu dan membunuhnya. Kata Nabi Musa: Kenapa kamu bunuh budak kecil yang tidak berdosa. Ini satu kesalahan yang amat besar.
Jawab Khaidhir: “Aku dah katakan kamu tidak mampu bersabar dengan-Ku”. Kata Nabi Musa, “Sekiranya aku bertanya lagi maka jangan berkawan lagi denganku cukuplah kesilapanku denganmu yang tidak tertahan.”
Lalu mereka berjalan lagi sehingga tiba di sebuah kampung dalam keadaan kelaparan dan ingin mendapatkan makanan dari penduduk kampung yang kedekut itu. Tetapi seluruh penduduk kampung enggan menjamu mereka, lalu bermalamlah mereka dalam kelaparan tetapi Khaidhir apabila bertemu dengan dinding yang hampir roboh lalu beliau bertungkus lumus menegakkanya kembali sekalipun dalam kelaparan.
Kata Nabi Musa, “Elok kalau kamu minta sedikit upah atas kerjamu itu untuk menghilang kelaparan kita ini.” Kata Khaidhir, “Inilah tiba masa perpisahan antara kita. Aku akan ceritakan rahsia perkara yang kamu tidak tahan sabar mengenainya.
“Adapun kapal yang aku rosakkan tempoh hari adalah milik orang miskin yang bekerja (mata pencarian hidup mereka) dalam laut. Aku rosakkannya untuk mengelak dari dirampas raja zalim yang akan merampas semua kapal yang baik-baik. Ini dilakukan supaya dia boleh bekerja membawa penumpang dengan selamat kelak. Dan ternyata selepas itu kapal itulah satu-satunya kapal yang tidak dirampas dan dapat bekerja belayar berulang alik membawa penumpang. Dan kehidupan pekerja kapal yang miskin tadi berubah menjadi senang dan kaya-raya.
“Adapun budak kecil yang dibunuh tadi kerana bila besar nanti dia akan menderhakai ibu bapanya, lalu kemudian Allah ingin menggantikannya dengan anaknya yang lain yang lebih baik dan menyayangi lagi menghormati mereka. Adapun dinding yang hampir roboh tadi, adalah milik dua anak yatim dalam bandar tersebut. Tetapi oleh kerana mereka masih kecil dan tidak mampu menjaga dinding tersebut dengan baik maka aku betulkan sehingga mereka besar nanti dapatlah mereka keluarkan gedung harta yang tersembunyi di bawahnya sebagai harta simpanan dari ibu bapa mereka yang soleh.
“Ini semua kerana rahmat dari Tuhanmu. Semuanya ada rahsia yang kamu tidak mampu bersabar atasnya. Antara pengajaran yang dapat difahami dari kisah tersebut ialah: Tidak ada mereka yang lebih alim melainkan ada di atasnya Yang Maha Mengetahui daripadanya. Kita disuruh belajar sekalipun dengan orang yang lebih rendah dari kita dan setiap perkara yang berlaku itu pasti ada hikmatnya dan sekalipun ianya berupa musibah tetapi pasti ada bersamanya rahmat dan nikmat.” Allah berfiman bermaksud: Sungguhnya berserta kesusahan itu kesenangan (surah al-Insyirah ayat 5-6) Wallahualam.

Kisah sembahyang dan Nabi

SUBUH:

Orang yang pertama mengerjakan sembahyang Subuh ialah Nabi Adam a.s., iaitu tatkala baginda keluar dari syurga lalu dihantar ke bumi. Perkara pertama yang dilihatnya ialah kegelapan dan baginda berasa takut yang amat sangat. Apabila fajar Subuh telah keluar Nabi Adam a.s. pun bersembahyang dua rakaat.

# Rakaat pertama:- Bersyukur baginda kerana terlepas dari kegelapan malam.
# Rakaat kedua:- Bersyukur baginda kerana siang telah menjelma.

ZOHOR:

Orang yang pertama mengerjakan sembahyang Zohor ialah Nabi Ibrahim a.s., iaitu tatkala Allah s.w.t. telah memerintahkan padanya agar menyembelih anaknya Nabi Ismail a.s. Sedang seruan itu datangnya pada waktu tergelincir matahari, lalu sujudlah Nabi Ibrahim empat rakaat.

# Rakaat pertama:- Bersyukur bagi penebusan.
# Rakaat kedua:- Bersyukur kerana dibukakan dukacitanya dan juga anaknya.
# Rakaat ketiga:- Bersyukur dan bermohon akan keredhaan Allah.
# Rakaat keempat:- Bersyukur kerana korbannya digantikan dengan tebusan kibas.

ASAR:

Orang yang pertama mengerjakan sembahyang Asar ialah Nabi Yunus a.s., tatkala baginda dikeluarkan oleh Allah dari perut ikan nun. Ikan nun telah memuntahkan Nabi Yunus di tepi pantai sedang ketika itu telah masuk waktu Asar. Maka bersyukurlah Nabi Yunus lalu bersembahyang empat rakaat kerana baginda telah diselamatkan oleh Allah daripada 4 kegelapan iaitu:

# Rakaat pertama:- Kelam dengan kesalahan.
# Rakaat kedua:- Kelam dengan air laut.
# Rakaat ketiga:- Kelam dengan malam.
# Rakaat keempat:- Kelam dengan perut ikan Nun.


MAGHRIB:

Orang yang pertama mengerjakan sembahyang Maghrib ialah Nabi Isa a.s., tatkala baginda dikeluarkan oleh Allah dari kejahilan dan kebodohan kaumnya, sedang waktu itu telah terbenamnya matahari. Bersyukurlah Nabi Isa lalu bersembahyang tiga rakaat kerana diselamatkan dari kejahilan tersebut, iaitu:

# Rakaat pertama:- Untuk menafikan ketuhanan selain daripada Allah yang Maha Esa.
# Rakaat kedua:- Untuk menafikan tuduhan dan juga tohmahan ke atas ibunya Siti Mariam yang telah dituduh melakukan perbuatan sumbang.
# Rakaat ketiga:- Untuk meyakinkan kaumnya bahawa Tuhan itu hanya satu iaitu Allah jua, tiada dua atau tiga.

ISYAK:

Orang yang pertama mengerjakan sembahyang Isyak ialah Nabi Musa a.s. Pada ketika itu Nabi Musa telah tersesat mencari jalan keluar dari negeri Madyan, sedang dalam dadanya penuh dengan perasaan dukacita. Allah lalu menghilangkan semua perasaan dukacitanya itu pada waktu Isyak yang akhir. Lalu sembahyanglah Nabi Musa empat rakaat sebagai tanda bersyukur.

# Rakaat pertama:- Dukacita terhadap isterinya.
# Rakaat kedua:- Dukacita terhadap saudaranya Nabi Harun.
# Rakaat ketiga:- Dukacita terhadap Firaun.
# Rakaat keempat:- Dukacita terhadap anak Firaun.

Diseksa angkara dosa sendiri

Oleh DR. ZULKIFLI MOHAMAD ALBAKRI
AL-MARAGHI berkata: Pembicaraan sebelumnya berkisar mengenai galakan agar berjihad dengan cara mengorbankan jiwa pada jalan Allah SWT serta menerangkan keistimewaan yang akan diterima oleh para mujahid, iaitu kedudukan yang mulia di sisi Tuhan mereka di dalam syurga yang penuh kenikmatan.
Iktibar dan fiqh ayat ke-180:
l Mujahid berkata: Maksud ayat ini ialah, orang-orang yang bakhil itu akan dipaksa memikul jenis harta yang dibakhilkannya pada hari kiamat sebagai balasan mereka sehingga tidak berdaya memikulnya.
* Al-Maraghi berkata: Ayat ini bersifat umum kerana ia mengandungi dorongan supaya melakukan pengorbanan harta tanpa batasan jumlah dan waktu yang tertentu.
* Hamka berkata: Ayat ini peringatan keras kepada si bakhil, supaya mengubah cara mereka berfikir.
Allah telah memberinya kurnia, tetapi setelah kurnia itu diterimanya dibolotnya untuk diri sendiri. Dia enggan memberikan sekadarnya untuk orang lain.
* Al-Sonhaji berkata: Allah menurunkan ayat ini supaya seseorang itu suka berjihad dengan mengorbankan hartanya, yang mana rasa sayang terhadap harta itu hampir sama dengan rasa sayang kepada nyawa mereka sendiri.
Lalu diterangkan di sini ancaman-ancaman Allah kepada orang yang lokek atau bakhil terhadap hartanya.
Iktibar dan fiqh ayat ke-181:
l Al-Qurtubi berkata: Allah menyebut kehinaan dan kehodohan ucapan kufur lebih-lebih lagi golongan Yahudi.
* Al-Maraghi berkata: Allah SWT akan menyeksa mereka dengan seksaan yang tidak dapat diragukan lagi sebagai balasan di atas perbuatan tersebut.
Ini kerana dalam proses mencatat dosa dan memelihara catatannya bererti memberikan hukuman (seksa) kepadanya. Pengertian seperti ini berlaku secara umum dari aspek penggunaan bahasa.
* Hamka berkata: kalau misalnya ditanyakan orang kepada mereka: Apa alasanmu berkata demikian? Tentu mereka menjawab: al-Quran sendiri mengatakan! Maka mengancamlah Allah: akan kami tuliskan yang mereka katakan itu. Sebab kata yang demikian adalah sangat jahat kerana menyalah ertikan maksud Allah.
* Al-Sonhaji berkata: Allah telah mengancam iaitu akan menuliskan kata-kata mereka sebagai pendusta dalam 'buku amalan' mereka yang bakal mereka pertanggungjawab di akhirat kelak.
Dan pembunuhan mereka yang tidak berhak terhadap para Nabi yakni peristiwa kekejaman yang dilakukan oleh mereka pada zaman dahulu akan dicatat di dalam buku amalan mereka dan disebabkan mereka reda dan bersetuju dengan kekejaman yang mereka lakukan tersebut.
Iktibar dan fiqh ayat ke-182:
l Ibn Kathir berkata: Apa yang dikatakan kepada mereka itu merupakan teguran, celaan, penghinaan dan ejekan.
* Al-Maraghi berkata: Seksaan yang diberikan kepada mereka kerana perbuatannya sendiri. Allah SWT itu bersifat adil dalam menjatuhkan hukuman dan dalam tindakan-Nya, tidak bersifat derhaka dan tidak pernah berlaku zalim.
Oleh yang demikian, orang yang tidak berhak dihukum, tidak dikenakan hukuman. Orang yang berdosa pula akan dipisahkan dengan orang yang bertakwa.
* Hamka berkata: Jika kamu disuruh merasakan betapa pedihnya seksa pembakaran, terbakar semangat kamu ketika hidup, terbakar di akhirat sesudah mati, janganlah itu kamu sesalkan kepada Allah.
Sebab hukum Allah adalah hukuman yang adil, orang yang tidak bersalah tidaklah akan dianiaya.
* Al-Sonhaji berkata: Adanya seksa kerana adanya amal yang jahat. Ini semata-mata menunjukkan keadilan Allah SWT jua.
Bukanlah bermakna Allah itu zalim, dan menganiaya. Orang yang tidak bersalah tidak boleh dihukum, yang durjana tidak akan diperlakukan seperti orang yang bertakwa dan yang kufur tidak akan dilayan seperti orang yang beriman.
Iktibar dan fiqh ayat ke-183:
l Ibn Kathir berkata: Allah SWT berfirman dalam mendustakan mereka yang menganggap bahawa Allah SWT telah mengambil janji dari mereka dalam kitab-kitab mereka, untuk tidak beriman kepada seorang Rasul pun. Sehingga terjadi mukjizat iaitu jika ada orang dari umatnya yang bersedekah, lalu sedekahnya itu diterima, maka akan turun api dari langit yang menghanguskan sedekah tersebut.
* Ibn Jarir al-Tabari berkata: Apabila salah seorang di antara mereka mengeluarkan sesuatu sedekah, sekiranya sedekah itu diterima Tuhan, nescaya turunlah api dari langit memakan apa yang telah disedekahkannya.
* Ibn Jarir meriwayatkan salah seorang daripada kalangan mereka yang dahulunya sering bersedekah, tetapi apabila sedekah itu diterima, maka turunlah api dari langit kepadanya, kemudian memakan barang yang disedekahkan itu.
* Mufassir al-Kalby berkata: Beberapa yahudi datang menemui Rasulullah SAW. Mereka itu ialah Ka'ab bin al-Asyaraf dan yang lainnya mereka berkata kepada Nabi Muhammad SAW: Engkau mengakui dirimu menjadi rasul dan membawa kitab. Sedangkan di dalam kitab Taurat ada menyebut, bahawa kami tidak boleh terus beriman kepada seseorang yang mengakui sebagai nabi, sebelum dia datang kepada kami dengan suatu korban yang kemudiannya dimakan api.
Iktibar dan fiqh ayat ke-184:
l Al-Qurtubi berkata: Kitab-kitab yang dipanggil sebagai Zubur atau Zabur sebenarnya bermaksud dengan kitab. Antara maksudnya juga satu tegahan dan ancaman.
* Al-Maraghi berkata: Ayat ini memberi hiburan kepada Rasulullah SAW dan menerangkan bahawa pada setiap zaman, tabiat manusia adalah sama sahaja.
Ada yang mahu menerima kebenaran dan mahu menyambutnya dengan dada yang lapang, hati yang tenang dan ada pula yang menunjukkan sikap melawan kebenaran, memusuhi pembawanya dan menganggap bodoh orang yang mahu menerima kebenaran.
* Hamka berkata: ini adalah kata tasliyah, pujuk penawar hati Nabi SAW daripada Allah.
Segala tentangan, sanggahan atau meminta mukjizat api putih menelan korban, atau meminta dihidupkan kembali korban bakaran Bani Israel iaitu korban dibakar bukan dibahagi dagingnya, atau hal-hal yang mereka kemukakan, sudah terang kerana kufur saja.
* Al-Sonhaji berkata: Ayat ini adalah hiburan dari Allah kepada nabi-Nya kerana di dalamnya diterangkan tabiat dan pekerti manusia sepanjang zaman.
Di antara mereka itu ada yang mahu menerima perkara yang hak dan benar seperti yang dibawakan oleh para rasul tersebut. Diterima dengan dada terbuka dan berlapang dada. Dan ada pula di antara mereka yang membangkang dan menentang kebenaran itu serta menghalang orang yang memperjuangkannya.
Ayat-ayat dibincangkan di atas jelas menunjukkan perlunya kita menjadi hamba Allah dan tidak terpesong sebagaimana golongan Yahudi yang sanggup membunuh para nabi mereka di samping mendustakan rasul dan nabi.

Isnin, 12 September 2011

Panduan Menjelang Peperiksaan


Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh.. semua anak muridku, tentunya kini kalian sudah bersedia sepenuhnya untuk menghadapi Ujian Penilaian Sekolah Rendah...sayangnya, majlis penyerahan ilmu tadi, cikgu tidak berada bersama kalian kerana ada taklimat di PPD Kota Bharu, Walaupun cikgu tidak bersama kalian tadi tapi percayalah hati dan perasaan ini turut diulit kerisauan, bagaimanakah keaadan kalian ? macam mana agaknya soalan yang akan keluar ? apakah pencapaian tahun ini akan lebih baik atau lebih buruk daripada tahun lepas ? begitulah persoalan yang bermain di minda cikgu tadi. buat anak2 yatim di SKKB1, yakinlah bahawa walaupun kamu mungkin tidak berayah atau berbapa bahawa Allah Taala akan bersamamu..begitu juga anak2 fuqara dan semua anak didik cikgu bahawa Allah Taala akan bersama kalian . InsyaAllah. Di sini cikgu ingin coretkan sedikit panduan untuk kamu menghadapi UPSR nanti; cikgu ambil daripada Berita Harian dan diedit dengan sedikit ilmu cikgu sendiri


1. Semak jadual
Menyemak jadual peperiksaan penting bagi menentukan masa cukup untuk belajar, khususnya pada saat-saat akhir ini. Latihan mesti diteruskan mengikut kertas peperiksaan yang akhir diduduki terlebih dulu. Ini kerana apabila tiba hari peperiksaan, calon akan belajar subjek yang akan diuji pada hari pertama peperiksaan.
Jika melakukan demikian, bermakna anda telah membuat persiapan yang menyeluruh dan tidak ada subjek tertinggal atau tidak dipelajari.
2. Kunci peperiksaan
Apakah kunci kepada peperiksaan? Peperiksaan menuntut calon membuat banyak latihan dan ulang kaji bagi mengingati pelajaran lalu, selain mengelak diri daripada lupa fakta ketika menjawab soalan.
Oleh itu, anda jangan jemu untuk terus membuat ulang kaji, terutama menggunakan kertas peperiksaan tahun terdahulu atau soalan seiras. Langkah itu akan membiasakan anda dengan soalan standard, di samping membolehkan ingatan anda kekal dan berpanjangan.
3. Tentukan keutamaan
Belajar pada saat-saat akhir juga perlu mengutamakan mata pelajaran atau kemahiran yang masih belum atau kurang dikuasai. dalam hal ini, jangan sekali-kali belajar subjek yang anda sukai saja, sebaliknya merangkumi semua.
Ini kerana setiap peperiksaan akan membabitkan semua subjek dipelajari di sekolah, bukannya berdasarkan minat seseorang calon.
4. Banyak mengingat dan membuat kaitan
Mengingat adalah satu perkara penting yang mesti dilakukan calon dalam menghadapi peperiksaan. Pelbagai cara boleh anda digunakan untuk mengingat, antaranya belajar berulang kali mengenai sesuatu kemahiran.
Apa-apa pun cara digunakan, terpulang kepada anda, asalkan ia dapat membantu mengingat dan membuat kaitan apabila diperlukan.
5. Merancang persiapan peperiksaan
Ada tiga perkara yang mesti diamalkan calon bagi menentukan kejayaan cemerlang dalam peperiksaan.
a. Pertama, sebelum peperiksaan khususnya dalam tempoh beberapa minggu ini, kuat dan tingkatkan usaha serta semangat dengan belajar secara berterusan.
Selain di sekolah dan rumah, anda seharusnya mengambil peluang memanfaatkan masa yang ada, tidak kira di mana saja berada dengan membaca nota ringkas yang disediakan sebelum ini. Ini akan membantu anda mengingati semula apa yang telah dipelajari.
Dalam pada itu, kesihatan diri jangan diabaikan. Walaupun bersemangat untuk menduduki peperiksaan, janganlah keterlaluan hingga lupa makan dan minum. Ini kerana keadaan itu boleh menyebabkan anda jatuh sakit.
Tidur hendaklah mencukupi supaya anda sentiasa selesa dan dapat memberi tumpuan terhadap pelajaran sama ada ketika di sekolah mahupun sewaktu belajar sendiri di rumah. Kesihatan tubuh badan yang baik amat perlu, apatah lagi akan menduduki peperiksaan.
Buat seketika, lupakan dulu perkara-perkara lain yang anda minat, sebaliknya manfaat masa yang ada dengan mengulang kaji pelajaran. Ini kerana semua perkara itu boleh dilakukan kemudian berbanding peperiksaan yang kata orang sekali seumur hidup. Jangan lepaskan peluang keemasan itu.
Begitu juga dengan pengambilan makanan, seharusnya ia seimbang. Dalam masa beberapa hari ini juga, anda seharusnya makan makanan yang berzat dan boleh membantu mengembang dan mencergaskan minda anda.
Setelah segala persiapan diri sudah dilakukan, anda perlu pastikan keperluan peperiksaan yang lain tidak dilupakan, antaranya peralatan menulis khususnya pensel 2B, pemadam dan penajam pensel, jika tidak sediakan beberapa batang pensel. Pastikan peralatan ini disediakan lebih awal dan tidak lupa dibawa pada hari peperiksaan.
Sebaiknya tidurlah lebih awal pada malam hari peperiksaan. Langkah itu perlu supaya anda berasa segar dan dapat menghadapi kertas peperiksaan dengan tenang tanpa sebarang masalah.
b. Kedua, pada hari peperiksaan. Bangun dan pergi ke sekolah atau dewan peperiksaan lebih awal, bagaimanapun pastikan anda bersarapan terlebih dulu. Jika anda bangun lewat, bukan saja tidak sempat bersarapan, malah akan tergesa-gesa ke sekolah.
Ingat, perbuatan tergesa-gesa menjanjikan pelbagai masalah, antaranya membuatkan anda panik lalu tidak dapat menumpukan terhadap peperiksaan.
Sebelum itu, jangan lupa bersalaman dengan ibu bapa dan minta mereka mendoakan kita dapat menjawab soalan dengan jayanya. Walaupun dah selalu minta maaf, mohonlah ampun dan maaf kepada ibu bapa sebelum pergi ke sekolah.
Ketika berada dalam dewan peperiksaan, anda hendaklah dalam keadaan tenang dan anggaplah peperiksaan itu sebagai perkara biasa. Untuk menenangkan diri jika menggelabah, anda tariklah nafas panjang-panjang. Langkah itu membantu jantung anda mendapat bekalan oksigen yang mencukupi, sekali gus menghilangkan rasa gugup dan bimbang. Saat ini, bacalah selawat kepada junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W bnyk-bnyk
Apabila menjawab soalan, sekali lagi anda perlu tenang. Setelah diberi kebenaran oleh pengawas peperiksaan, jawablah soalan yang anda fikir mudah dulu. Jangan lupa membaca doa Robbi Yassir Wa la Tu’assir ( yang bermaksud, tuhanku permudahkan jangan payahkan ).Jangan guna masa terlalu banyak untuk menjawab soalan sukar itu, sebaliknya terus selesaikan soalan lebih mudah. Soalan susah yang ditinggalkan sementara itu jangan diabaikan, tetapi dibuat kemudian.
Jika menjawab soalan objektif, ketelitian amat perlu. Menentukan pilihan jawapan yang tepat amat penting. Pastikan jawapan yang kita pilih dalam kertas soalan sama dengan huruf pada kertas jawapan. Seandainya tersalah tanda, padamkan betul-betul sehingga hilang tanda hitam pensel
Walaupun sudah yakin jawapan yang diberi, baik bagi soalan objektif mahupun subjektif, semakan sebelum kertas jawapan diserah kepada pengawas peperiksaan adalah perlu dalam memastikan semuanya betul dan sudah dijawab. Oleh itu, peruntukkan sedikit masa untuk tujuan semakan terakhir.
Pembahagian masa yang betul amat perlu ketika menjawab soalan. Gunakan masa yang diperuntukkan dengan berkesan. Jangan sekali-kali alpa atau khayal sewaktu menjawab kerana langkah itu akan merugikan anda.
c. Ketiga, selepas peperiksaan. Setelah menduduki sesuatu kertas peperiksaan, anda tidak digalakkan berbincang dulu dengan rakan atau sesiapa mengenainya. Ini perlu bagi mengelakkan perasaan kecewa jika didapati jawapan anda terpesong atau salah.
Jika ini berlaku, anda mungkin hilang semangat atau fikiran terganggu ketika menjawab kertas soalan berikutnya. Sebaiknya, bincang kertas soalan itu setelah peperiksaan berakhir.
Langkah terbaik, beri tumpuan penuh untuk menjawab soalan, bukannya menyemak jawapan.
6. Elakkan terbabit dengan situasi yang boleh mengganggu perasaan
Menjelang peperiksaan, pelbagai dugaan mungkin dihadapi. Oleh itu, anda seharusnya sentiasa bersedia menghadapi apa saja dugaan yang boleh mengganggu perasaan. Selepas menunaikan solat lima waktu, berdoalah supaya Allah SWT tenangkan perasaan dan dapat fokuskan tumpuan terhadap peperiksaan.

7. Berdoa dan bertawakal
Sering kali kita was-was ataupun tidak yakin dengan apa yang dilakukan. Dalam hal peperiksaan, anda tidak seharusnya kurang yakin dengan kemampuan diri jika sudah membuat persiapan rapi sejak awal lagi. Sepatutnya kita berdoa dan tawakal kepada Allah SWT kerana usaha itu adalah senjata terakhir bukan saja untuk membina keyakinan diri, malah mencapai kejayaan.
Itulah di antara tip-tip yang boleh digunakan oleh pelajar sebagai panduan persedian dan meghadapi peperiksaan tidak lama lagi. Di harap dengan panduan tip-tip di atas, pelajar-pelajar akan berkeyakinan dan membuat persiapan yang cukup untuk menghadapi ujian itu nanti.
 semoga kalian berjaya dengan cemerlang...itulah doa kami semua di SKKB1.