Ahad, 23 Oktober 2011

kira ke kemanakah usia kita dihabiskan ? dipetik drpd facebook kata2 hikmah



BERAPAKAH usia Anda hari ini? Rasulullah pernah mengatakan, rata-rata umur ummat nya hanya seputar 60-70 tahun saja.

أَعْماَرُ أُمَّتِي بَيْنَ سِتِّيْنَ وَ سَبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنَ يُجاَوِزُ عَلَى ذَلِكَ
“Umur ummatku antara 60-70 tahun. Sangat sedikit di antara mereka yang umurnya melampaui kisaran itu.” (HR. At Tirmidzi 3550, Ibnu Hibban 7/246, Ibnu Majah 4236).

Nah, sekarang, marilah kita hitung dengan matematika sederhana saja. Bisa jadi, kita diberi Allah usia sampai 70 tahun. Tetapi bisa saja tidak. Marilah kita pilih di tengah, anggap saja, kita diberita kemudahan untuk hidup pada usia 50 tahun.

50 tahun telah menghabiskan sekitar 18.250 hari atau setara dengan 458.000 jam. Itu andaikan kita menggunakannya 24 jam sehari semalam penuh melakukan aktivitas. Faktanya, kebanyakan manusia membutuhkan istirahat, tidur, nonton, jalan-jalan, berbelanja, bergurau dll.

Anggap saja waktu tidur kita adalah 8 jam/hari. Maka, dalam masa 50 tahun, waktu yang telah kita habiskan untuk tidur memakan waktu 146.000 jam atau sama dengan 16 tahun 7 bulan (dibulatkan 17 tahun). Betapa sia-sianya kita menghabiskan waktu selama 17 tahun hanya untuk tidur.

Selain tidur, umumnya kegiatan manusia di siang hari adalah; bekerja, belajar, mengajar, makan, jalan-jalan, istirahat atau ngerumpi. Jika semua waktu itu memakan waktu 4 jam rata-rata. Maka, dalam 50 tahun waktu yang dipakai untuk istirahat,ngerumpi, jalan-jalan dll membutuhkan (18.250 hari x 4 jam) atau 73.000 jam. Ini setara dengan 8 tahun.

Jadi, selama 50 tahun itu pula kegiatan kita untuk tidur, jalan-jalan, ngerumpi, nonton, istirahat memakan waktu 17 tahun + 8 tahun atau menghabiskan waktu 25 tahun.

Jika usia Anda hari ini masih 20-25 tahun, maka tinggal mengurangi 10 tahun “angka sia-sianya”. Maka, hasilnya tetaplah sama, hampir separuh masa kita telah hilang dengan sia-sia.

Pertanyaannya sekarang, berapa sisa waktu yang dipergunakan untuk beribadah dan sebagai bekal menghadap yang Khalik?

***

Alkisah, suatu ketika ada seorang tabi’in bernama Tsabit bin Amir bin Abdullah bin Zubair jatuh sakit. Saat mendengar panggilan adzan shalat Maghrib, ia berkata kepada anak-anaknya, Bawalah aku ke masjid ! Anak-anaknya menjawab : Engkau sedang sakit ! Allah memaafkanmu. Ia kembali berkata, Laa ilaaha illallah ! Aku mendengar seruan hayya ‘ala ash-shalah hayya ‘ala al-falah ! dan aku tidak menjawab seruan itu? Demi Allah, Bawalah aku ke masjid. Mereka pun akhirnya membawa ayahnya ke masjid. Ketika sampai pada sujud terakhir dalam shalat maghrib itu, Allah mencabut nyawanya.

Sebagian ulama ada yang menceritakan bahwa lelaki tersebut ketika melakukan shalat shubuh selalu berdoa, Ya Allah, aku memohon kematian yang baik pada-MU. Lalu ia ditanya apa maksud dari kematian yang baik yang ia mohon dalam potongan doanya itu adalah kematian saat bersujud.

Kematian menjemput siapa saja tanpa memandang bulu, masa ajal tiba adalah rahasia dari-Nya, agar manusia siap menghadapinya setiap saat. Siapapun tidak bisa menjamin selamat dalam mabuk kematian (sakaratul maut). Kematian yang indah adalah ketika bersujud, baca al-quran, berjihad di jalan Allah SWT, di majlis ta’lim, majlis zikir dan majlis shalat jamaah. Orang akan mengakhiri kehidupannya berbanding lurus dengan hobinya di dunia. Maka, kita perlu selektif dalam memilih hobi (man syabba, syaaba ‘alaih).

Masalahnya, apakah benar semua kegiatan kita –bekerja, kuliah, istirahat, makan-makan, jalan-jalan kita-- digunakan untuk tujuan puncak, yakni hanya mengabdikan diri kepada Allah SWT. Andakan persepsi ibadah kita hanya 5 x sehari semalam, berarti semua itu masih memenuhi tujuan penciptaan kita.

Berapa lama shalat yang kita lakukan selama 50 tahun? Atau berapa lama waktu shalat yang telah kita lakukan selama 20-25 tahun usia kita ini?

Untuk sekali shalat , orang menghabiskan waktu 10 menit. Ini berarti dalam 5x shalat (menghabislan waktu sekitar 1 jam). Maka, dalam 50 tahun waktu yang kita digunakan untuk shalat = 18.250 hari x 1 jam = 18.250 jam. Setara dengan 2 tahun.

Masa 50 tahun di dunia hanya 2 tahun untuk shalat? Ini, bagi yang shalat memakan waktu 10 menit. Kalau cara shalat ekspres (super cepat), lalu bagaimana?

Benarkah shalat kita itu mencukupi untuk diterima dan pantas untuk menghadap Allah? Mengapa Anda begitu yakin?

Padahal Allah SWT berfirman dalam suratnya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz Dzariyat (51) : 56-57).

2 tahun dari 50 tahun kesempatan…itupun belum dapat dipastikan shalat kita memberikan efek pada perubahan pola pikir dan pembentukan akhlak yang mulia.

Sepertinya pahala shalat selama 2 tahun tidak sebanding dengan perbuatan dosa-dosa selama 50 tahun, dalam percakapan yang terkadang dusta, baik direncanakan atau tidak disengaja, ucapan yang menyinggung, memakan harta yang bukan milik kita, menggelapkan dan memalsukan angka-angka dll. Bukankah kita tidak berdaya dalam mengendalikan dosa panca indra kita?

Menata Ulang Pola Hidup
Suatu yang paling mahal dalam kehidupan kita adalah kesadaran tentang misi kehidupan di dunia ini. Tiada kata terlambat, sekalipun waktu demikian cepat, yang berlalu tidak akan kembali. Jangan kita biarkan kehidupan kita ini sia-sia belaka. Hanya memburu dunia, memarginalkan kehidupan akhirat.

Pernahkah kita membayangkan, berapa lamakah umat akhir zaman ini menikmati kehidupannya yang fana ini?

Kehidupan di dunia ini bagaikan berteduh di bawah pohon (halte) untuk menghilangkan kepenatan dalam menempuh perjalanan kehidupan yang jauh. Atau bagaikan mampir untuk membasahi kerongkongan yang sedang kering, karena dahaga.

Dalam ayat di atas disebutkan 1 hari menurut perhitungan Allah SWT adalah 1000 tahun menurut perhitungan kita. Berarti kita hidup tidak lebih dari 1/10 hari menurut perhitungan-Nya. Sekarang kita mencoba untuk mengkalkulasi. Dengan cara ini semoga muncul kesadaran baru untuk tajdidul iman, tajdidul ‘ibadah dan tajdidul akhlaq, tajdidul jihad wal ijtihad wal mujahadah.

Dalam sebuah firmannya, Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung." Allah berfirman : "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui." (QS. Al-Mukminun (23) : 112-114).

Kesimpulannya, sesungguhnya kehidupan di dunia ini --yang seolah kita persepsikan panjang-- hakikatnya sangat singkat. Alangkah sia-sianya jika kita gunakan hanya untuk hal-hal yang tak ada hubungannya dengan ibadah di jalan Allah.

Meminjam istilah Hasan Al Banna, barangsiapa yang mengisi waktunya hanya untuk bersenda gurau berarti melupakan misi kehidupannya. Mudah-mudakan, kita bisa memanfaatkan kesempatan hidup ini jauh lebih baik lagi.*

Oleh: Shalih Hasyim ( kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah)

Jumaat, 21 Oktober 2011

NABI ILYAS A.S DAN MALAIKAT




                        Ketika sedang berehat datanglah malaikat kepada Nabi Ilyas a.s. Malaikat itu datang untuk menjemput ruhnya. Mendengar berita itu, Ilyas menjadi sedih dan menangis. "Mengapa engkau bersedih?" tanya malaikat maut. "Tidak tahulah." Jawab Ilyas. "Apakah engkau bersedih kerana akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi maut?" tanya malaikat. "Tidak. Tiada sesuatu yang aku sesali kecuali kerana aku menyesal tidak boleh lagi berzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup boleh terus berzikir memuji Allah." jawab Ilyas.

                        Saat itu
 
Allah s.w.t. lantas menurunkan wahyu kepada malaikat agar menunda pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas berzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas ingin terus hdup semata-mata kerana ingin berzikir kepada Allah s.w.t. Maka berzikirlah Nabi Ilyas sepanjang hidupnya.
"Biarlah dia hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berzikir kepada-
Ku sampai akhir nanti." Kata Allah s.w.t.

Khamis, 13 Oktober 2011

Hubungan dengan Allah Taala

 Hubungan Dengan Allah
~ Orang yang beriman itu ialah orang-orang yang mereka itu teringat Allah pada waktu berdiri, duduk, baring. Dan mereka bertafakur, maka bertambah lagi rasa kebesaran Tuhan, bertambah lagi rasa bertuhan ~

Hubungkan dengan Allah ada beberapa peringkat. Kalau tidak mengikuti peringkat yang disebutkan ini maka kita tidak dianggap berhubung dengan Tuhan walaupun percaya Tuhan itu ada, walaupun kita percaya Tuhan wujud, walaupun kita percaya Tuhan itu berkuasa,

I. Peringkat paling dasar [Percaya adanya Tuhan].

Diluar yang asas ini tidak dianggap seseorang itu berhubung dengan Tuhan.

Peringkat paling dasar adalah :

Percaya adanya Tuhan, Tuhan itu mempunyai sifat yang Maha sempurna, kesempurnaanya tak terhingga dan Maha suci Tuhan daripada mempunyai sifat2 kekurangan walaupun sebesardebu

Ini perhubungan yang paling lemah, akidah yang paling asas atau perhubungan yang paling asas dengan Tuhan. Kalau keluar dari peringkat ini maka dia bukan orang Islam, bukan orang mukmin. Tapi agar umat Islam kembali pada kewibawaan, peringkat ini tak cukup. Itu sekedar asas supaya orang tak jadi kafir saja, yakni memastikan imannya.

II. Peringkat kedua [Percaya adanya Tuhan dengan Ilmu].

Percaya Tuhan, Tuhan punya sifat sempurna 20 sifat yang dulu diajarkan guru kita. Mustahil bagi Tuhan, mempunyai sifat2 yang berlawanan dengan sifat2 yang wajib tadi itu dengan hujah2 akal dan naqli. Nash Qur’an & Hadist. Jadi perhubungan dengan Tuhan peringkat kedua ini lebih tinggi sedikit dari tahap pertama, tapi ini pun tak cukup untuk dapat mengembalikan wibawa umat Islam. Itu sekedar ada hujah, ada dalil, ada bukti dari sifat2 Tuhan yang sempurna itu.

III. Peringkat ketiga : Hubungan orang SOLEH dengan Tuhan.

Setelah dia mengenal Tuhan melalui tahap 1 & 2, datanglah rasa takut dengan Tuhan, datanglah rasa cinta dengan Tuhan.

Siapa dapat tahap 3 dia sudah dianggap terhubung dengan Tuhan, sudah masuk golongan orang soleh tapi belum masuk level bertaqwa. Di akhirat dia selamat tapi di dunia belum tahu. Untuk mengelak dari kehinaaan belum mampu lagi. Untuk mengelak dari diperkotak katikan oleh musuh, tak mampu lagi. Sebab yang Tuhan akan tolong dari diperkotakkatikan oleh musuh adalah orang bertaqwa. Sedangkan orang soleh belum lagi akan dapat pembelaan Tuhan. Banyak ayat yang berkata bila orang sudah bertaqwa maka Tuhan akan tolong. Tapi tak ada ayat yang mengatakan bahawa orang soleh akan ditolong Tuhan. Tapi di akhirat orang soleh akan selamat, dia ke syurga tapi hisabnya banyak. Tapi di dunia tak pasti selamat. Sebab standard dia hanya sebagai orang soleh dan tak bertaqwa pada Tuhan.

IV. Peringkat ke empat : Perhubungan orang BERTAQWA [ Muttaqqin ]

Orang bertaqwa mereka selamat di dunia dan selamat di akhirat. Di akhirat selamat dari neraka. Di dunia, Tuhan akan serahkan pada umat Islam yang bertaqwa. Bagaimanakah hubungan dengan Tuhan di tahap ini?

Selain takut dan cinta Tuhan, Rasa bertuhan dibawa kemana2.

Sepertilah Tuhan sebutkan dalam Qur’an :

“Orang yang beriman itu ialah orang2 yang mereka itu teringatkan Allah pada waktu berdiri, duduk, baring. dan mereka bertafakur, bertambah lagi rasa kebesaran Tuhan, tambah lagi rasa bertuhan.”

Hati sentiasa hidup : di kantor, sedang makan, sentiasa terasa kebesaran Tuhan, rasa kehambaan sentiasa terasa, rasa kehambaan, kehinaan diri terasa. Waktu makan, waktu duduk, waktu kerja, di pejabat terasa kebesaran Tuhan, terasa kecilnya diri. Ini perhubungan dengan Tuhan yang sudah bertaraf orang bertaqwa

V. Peringkat ke lima : MUQARRABIN & SIDDIQQIN

Yang paling tinggi orang yang mabuk dengan Tuhan, tenggelam perasaannya dengan Tuhan. mabuk. Kalau dia bukan pemimpin, dia akan gila. Tapi kalau dia pemimpin, Tuhan selamatkan macam Rasul saw, macam khulafaurrasyidin, kalau mereka sampai mabuk tak boleh pakai lagi, pemimpin2 Tuhan diselamatkan dari mabuk ini.

Macam Rasulullah, macam khulafaur rasyidin, macam para mujaddid, imam mujtahid. Sebab itu berguna bagi manusia. Tuhan jaga. Kalau dia bukan pemimpin, mujaddid, mujtahid, macam Uweis Al Qarni, dia mabuk langsung. Jumpa orang pun tak mau. Untuk dirinya saja dia selamat, tak dapat selamatkan orang lain.

Orang ini bukan bertaqwa lagi dia disebut muqarrabin dan siddiqin. Wali2 besar, dan Rasul & Nabi. Kita dapat taqwa cukup yaitu yang ke 4. kalau ramai umat Islam bertaqwa, Tuhan akan serahkan dunia. Segala yang hilang Tuhan kembalikan maka lahirlah wibawa semula umat Islam. Dunia akan diserahkan.

Jadi kata Tuhan kalau kita hendak selamat, wibawa semula, hendak dapatkan semua yang hilang, mesti buat hubungan dengan Tuhan. Perhubungan 1 & 2 sekedar sahkan iman. Keduanya tak selamat dunia akhirat. Cuma di akhirat tak kekal di neraka.

Peringkat yang ke 3 adalah orang-orang soleh. Di dunia dia tak dijamin selamat tapi di akhirat selamat. Sedangkan peringkat yang ke 4, peringkat orang bertaqwa, dia selamat dan menyelamatkan orang lain.

Bila ada orang bertaqwa agak ramai maka orang Islam yang lain sama2 dapat rahmat, sama2 terbela. Taraf perhub ke 5, ke 6 sudah tinggi sangat.

Habluminallah atau bentuk perhubungan dengan Tuhan yang paling sempurna adalah sembahyang.

Dalam sembahyang ini ada 3 bentuk perhubungan dengan Tuhan yakni : sembahyang perbuatan, sembahyang perkataan, sembahyang perasaan.

Sebab itu sembahyang wajib. Sembahyang ini adalah perhubungan dengan Tuhan yang paling sempurna dimana didalamnya ada perhubungan fisikal, perkataan dan perasaan. Yang diuraikan di atas tadi tidak semua aspek ada, hanya ada ilmu dan perassan sahaja. Sebab itu sembahyang tak boleh tinggal. Siapa yang tinggalkan sembahyang dengan sengaja kata Rasul saw, dia dianggap kafir.

Sabtu, 1 Oktober 2011

Hududdullah


HUDUD
Hukuman hudud, qisas, diyat dan ta`zir diperuntukkan dalam qanun jinayah syar`iyyah adalah bertujuan untuk menjaga prinsip perundangan Islam yang tertakluk di bawahnya lima perkara:
1. Menjaga agama, iaitu menjaga aqidah orang-orang Islam supaya tidak terpesong dari aqidah yang sebenar dan tidak menjadi murtad. Orang yang murtad akan disuruh bertaubat terlebih dahulu dan sekiranya dia enggan bertaubat maka hukuman bunuh akan dikenakan ke atas mereka. Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
“Sesiapa yang menukar agamanya (murtad), maka bunuhlah dia.” (Riwayat Bukhari)
2. Menjaga nyawa, iaitu menjaga jiwa seseorang dari dibunuh termasuklah menjaga anggota tubuh badan seseorang dari dicederakan atu dirosakkan. Sesiapa yang membunuh manusia atau mencederakan anggota tubuh badan mereka itu dengan sengaja wajib dijatuhkan hukuman qisas atau diyat sebagaimana firman Allah s.w.t. yang bermaksud:
“Dan di dalam hukum qisas itu ada jaminan hidup bagi kamu, wahai orang-orang yang berakal fikiran supaya kamu bertaqwa.” (Surah Al-Baqarah, 2:179)
3. Menjaga akal fikiran, iaitu memelihara akal fikiran manusia dari kerosakan disebabkan minum arak atau minuman-minuman yang memabukkan. Mereka yang meminum arak wajib dijatuhkan hukuman sebat tidak lebih dari lapan puluh kali sebat sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Saiyidina Ali di dalam sebuah hadith yang bermaksud:
“Rasulullah s.a.w. telah menyebat orang yang minum arak sebanyak empat puluh kali sebat, dan Saiyidina Abu Bakar telah menyebat empat puluh kali sebat juga, dan Saiyidina Umar menyebat sebanyak lapan puluh kali .
4. Menjaga keturunan, iaitu memelihara manusia dari melakukan perzinaan supaya nasab keturunan, perwalian dan pewarisan anak-anak yang lahir hasil dari persetubuhan haram itu tidak rosak. Orang yang melakukan perzinaan wajib dijatuhkan hukum sebat dan rejam sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. dalam hadithnya yang diriwayatkan daripada `Ubadah bin As-Somit r.a. yang bermaksud:
“Ambillah peraturan daripada aku, ambillah peraturan daripada aku. Sesungguhnya Allah telah memberi jalan untuk mereka. Perawan dengan jejaka yang berzina hukumannya disebat sebanyak seratus kali sebat, dan dibuang negeri selama setahun. Dan janda dengan janda yang berzina hukumannya disebat sebanyak seratus kali sebat dan direjam.” (Riwayat Muslim dan Abu Daud)
5. Menjaga harta benda, iaitu memelihara harta benda manusia dari dicuri dan dirompak dengan menjatuhkan hukuman potong tangan ke atas pencuri, dan menjatuhkan hukuman mati atau potong tangan dan kaki kedua-duanya sekali atau dibuang negeri ke atas perompak. Hukuman ini tertakluk kepada cara rompakan itu dilakukan sebagaimana firman Allah s.w.t. yang bermaksud:
“Dan orang lelaki yang mencuri dan perempuan yang mencuri maka (hukumannya) potonglah tangan mereka sebagai satu balasan dengan sebab apa yang mereka telah usahakan, (juga sebagai) suatu hukuman pencegah dari Allah. Dan (ingatlah) Allah maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Surah Al-Ma’idah: 38)
Firman Allah s.w.t. lagi yang bermaksud:
“Sesungguhnya balasan orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya serta melakukan bencana kerosakan di muka bumi (melakukan keganasan merampas dan membunuh orang di jalan ) ialah dengan balasan bunuh (kalau mereka membunuh sahaja dengan tidak merampas), atau dipalang (kalau mereka membunuh dan merampas), atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan berselang (kalau mereka merampas sahaja, atau dibuang negeri (kalau mereka hanya mengganggu ketenteraman awam). Hukuman yang demikian itu adalah suatu kehinaan di dunia bagi mereka, dan di akhirat kelak mereka beroleh azab siksa yang amat besar.” (Surah Al-Ma’idah: 33)

7 panduan hadapi Ujian Allah Taala.


              



            Apa – apa pun perkara yang menimpa diri kita, insyaallah akan menjadi kebaikan kalau dihadapi dengan sikap positif. Ketika ini, terasa betapa kehidupan adalah sangat berat. Putus cinta, kenaikan harga barang, bencana tanah runtuh, persengketaan politik, dan memuncaknya jenayah telah menjadi warna dominan didalam media cetak mahupun elektronik. Jika ditakdirkan musibah atau ujian itu menimpa diri kita, apa yang harus kita lakukan untuk  menghadapinya? Bersediakah kita?
Saya ingin berkongsi dengan sahabat – sahabat semua tips untuk menghadapi ujian. Sebenarnya, paling tidak, ada tujuh tips untuk  menghadapi pelbagai ujian kehidupan, iaitu :
Pertama, yakinlah bahawa ujian itu merupakan ekspresi cinta Allah pada hamba-Nya. Allah Swt memberikan cubaan agar kita menjadi lebih dewasa dan matang dalam mengharungi kehidupan. Abu Hurairah r.a. berkata, bahawa Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik maka dia akan diberi-Nya cubaan.” (H.R.Bukhari)
Kedua, yakinlah bahawa semakin besar dan banyak cubaan yang Allah turunkan kepada kita, makin besar pula pahala dan sayang Allah yang akan dilimpahkan kepada kita. Dengan syarat, kita dapat menyelesaikan setiap ujian itu secara baik. Anas r.a. berkata: Nabi saw. bersabda,“Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya cubaan. Sesungguhnya apabila Allah Ta’ala itu mencintai suatu kaum maka Dia mengujinya. Barang siapa yang rela menerimanya, dia mendapat keredhaan Allah, dan barang siapa yang murka, maka dia pun mendapat kemurkaan Allah” (H.R.Tirmidzi)
Ketiga, yakinlah bahawa ujian itu akan menghapuskan dosa-dosa yang pernah kita kerjakan. Abu Said dan Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahawa Nabi saw. bersabda: “Seorang muslim yang ditimpa penderitaan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, gangguan, dan kerisauan, bahkan hanya terkena duri sekalipun, semuanya itu merupakan kafarat (penebus) dari dosa-dosanya (H.R. Bukhari dan Muslim)
Keempat, selalulah untuk berfikir positif bahawa apa – apa pun yang menimpa diri kita akan menjadi kebaikan. Abu Yahya Shuhaib bin Sinan r.a. berkata, bahawa Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh menakjubkan sikap seorang mukmin itu, segala keadaan dianggapnya baik dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka itu lebih baik baginya, dan apabila ditimpa penderitaan, dia bersabar, maka itu lebih baik baginya.”(H.R.Muslim)
Kelima, yakinlah bahawa setelah kita ditimpa kesulitan, maka akan ada kemudahan. Fakta menunjukkan bahawa  idea – idea yang hebat sering muncul ketika kita berada di puncak kesulitan. Contohnya, banyak mahasiswa dapat mengarang jawapan walaupun pada saat menghadapi soalan peperiksaan yang sukar. ( Saya sering mengalaminya ketika peperiksaan akhir semester). Kerana sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Alam Nasyrah 94: 5- 6)
Keenam, selalu optimistik bahawa kita boleh menyelesaikan setiap ujian yang Allah berikan, kerana Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Optimis dapat  melahirkan tenaga yang tersembunyi dalam diri kita, kerana itu optimis boleh menjadi bahan bakar untuk menyelesaikan segala persoalan. Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan  hambanya itu. Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan dia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Q.S. Al-Baqarah 2 : 286)
Ketujuh, menghadapi ujian dengan usaha dan doa. Kerah segala ikhtiar untuk menyelesaikan ujian dan follow-up usaha itu dengan doa. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (Q.S. Alam Nasyarh 94 : 7 – 8). Berdoalah kepada-Ku, nescaya akan Aku kabulkan doamu.” (Q.S. Al-Mu’min 40: 60)
Itulah tujuh tips untuk menghadapi pelbagai ujian. Apa – apa pun perkara yang menimpa diri kita, Insyaallah ia akan menjadi kebaikan kalau dihadapi dengan sikap positif, optimistik, ikhtiar yang maksimum dan diikuti dengan doa. Sesungguhnya pertolongan Allah akan turun kalau kita berada dipuncak ujian. Untuk itu, jadikanlah ujian sebagai tangga untuk meraih pertolongan Allah SWT.


Selasa, 27 September 2011

KISAH MALAIKAT JIBRIL DAN MALAIKAT MIKAIL MENANGIS



                        Dalam sebuah kitab karangan Imam al-Ghazali menyebutkan bahawa iblis laknatullah itu sesungguhnya namanya disebut sebagai al-Abid (ahli ibadah) pada langit yang pertama, pada langit yang keduanya disebut az-Zahid. Pada langit ketiga, namanya disebut al-Arif. Pada langit keempat, namanya adalah al-Wali. Pada langit kelima, namanya disebut at-Taqi. Pada langit keenam namanya disebut al-Kazin. Pada langit ketujuh namanya disebut Azazil manakala dalam Luh Mahfudz, namanya ialah iblis.

                        Dia (iblis) lupa akibat urusannya. Maka Allah s.w.t. telah memerintahkannya sujud kepada Adam. Lalu iblis berkata, "Adakah Engkau mengutamakannya daripada aku, sedangkan aku lebih baik daripadanya. Engkau jadikan aku daripada api dan Engkau jadikan Adam daripada tanah." Lalu Allah s.w.t. berfirman yang maksudnya, "Aku membuat apa yang aku kehendaki." Oleh kerana iblis laknatullah memandang dirinya penuh keagungan, maka dia enggan sujud kepada Adam a.s. kerana bangga dan sombong. Dia berdiri tegak sampai saatnya malaikat bersujud dalam waktu yang berlalu. Ketika para malaikat mengangkat kepala mereka, mereka mendapati iblis laknatullah tidak sujud sedang mereka telah selesai sujud. Maka para malaikat bersujud lagi bagi kali kedua kerana bersyukur, tetapi iblis laknatullah tetap angkuh dan enggan sujud. Dia berdiri tegak dan memaling dari para malaikat yang sedang bersujud. Dia tidak ingin mengikut mereka dan tidak pula dia merasa menyesal atas keengganannya.

                        Kemudian Allah s.w.t. merubahkan mukanya pada asalnya yang sangat indah cemerlangan kepada bentuk seperti babi hutan. Allah s.w.t. membentukkan kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.

                        Setelah itu, lalu Allah s.w.t. mengusirnya dari syurga, bahkan dari langit, dari bumi dan ke beberapa jazirah. Dia tidak akan masuk ke bumi melainkan dengan cara sembunyi.Allah s.w.t. melaknatinya sehingga ke hari kiamat kerana dia menjadi kafir. Walaupun iblis laknatullah itu pada sebelumnya sangat indah cemerlang rupanya, mempunyai sayap empat, banyak ilmu, banyak ibadah serta menjadi kebanggan para malaikat dan pemukanya, dan dia juga pemimpin para malaikat karubiyin dan banyak lagi, tetapi semua itu tidak menjadi jaminan sama sekali baginya.

                        Ketika Allah s.w.t. membalas tipu daya iblis laknatullah, maka menangislah Jibril a.s.dan Mikail. Lalu Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud, "Apakah yang membuat kamu menangis?" Lalu mereka menjawab, "Ya Allah! Kami tidaklah aman dari tipu dayamu." Firman Allah s.w.t. bagi bermaksud, "Begitulah aku. Jadilah engkau berdua tidak aman dari tipu dayaku." Setelah diusir, maka iblis laknatullah pun berkata, "Ya Tuhanku, Engkau telah mengusir aku dari Syurga disebabkan Adam, dan aku tidak menguasainya melainkan dengan penguasaan-Mu."

                        Lalu Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud, "Engkau dikuasakan atas dia, yakni atas anak cucunya, sebab para nabi adalah maksum." Berkata lagi iblis laknatullah, "Tambahkanlah lagi untukku." Allah s.w.t. berfirman yang maksudnya, "Tidak akan dilahirkan seorang anak baginya kecuali tentu dilahirkan untukmu dua padanya." Berkata iblis laknatullah lagi, "Tambahkanlah lagi untukku." Lalu Allah s.w.t. berfirman dengan maksud, "Dada-dada mereka adalah rumahmu, engkau berjalan di sana sejalan dengan peredaran darah." Berkata iblis laknatullah lagi, "Tambahkanlah lagi untukku." Maka Allah s.w.t. berfirman lagi yang bermaksud, "Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan yang berjalan kaki, ertinya mintalah tolong menghadapi mereka dengan pembantu-pembantumu, baik yang naik kuda mahupun yang berjalan kaki. Dan berserikatlah dengan mereka pada harta, iaitu mendorong mereka mengusahakannya dan mengarahkannya ke dalam haram."

"Dan pada anak-anak, iaitu dengan menganjurkan mereka dalam membuat perantara mendapat anak dengan cara yang dilarang, seperti melakukan senggama dalam masa haid, berbuat perkara-perkara syirik mengenai anak-anak itu dengan memberi nama mereka Abdul Uzza, menyesatkan mereka dengan cara mendorong ke arah agama yang batil, mata pencarian yang tercela dan perbuatan-perbuatan yang jahat dan berjanjilah mereka." (Hal ini ada disebutkan dalamsurah al-Isra ayat 64 yang bermaksud : "Gerakkanlah orang yang engkau kuasai di antara mereka dengan suara engkau dan kerahkanlah kepada mereka tentera engkau yang berkuda dan yang berjalan kaki dan serikanlah mereka pada harta dan anak-anak dan berjanjilah kepada mereka. Tak ada yang dijanjikan iblis kepada mereka melainkan (semata-mata) tipuan."

Isnin, 26 September 2011

merintih minta air


JERTIH: “Saya sebak melihat arwah yang dalam keadaan lemah meminta air minuman sambil mengadu kepanasan,” kata Rakiah Ismail, 31, ibu kepada Tengku Hafizul Hafiq Tengku Anuar, 5, yang maut akibat disengat tebuan ketika dalam perjalanan pulang ke rumah mereka di Kampung Pengkalan Nyireh dekat sini, kelmarin.
Dalam kejadian jam 1 tengah hari, Tengku Hafizul yang cedera teruk di seluruh badan dengan kira-kira 50 kesan sengatan, termasuk 20 di kepala meninggal dunia di Hospital Besut selepas empat jam menahan derita.

Menurut Rakiah, arwah sempat meminta air daripadanya selepas diserang kumpulan tebuan itu.

“Ketika itu, arwah dalam keadaan lemah selain mengadu kepanasan sebelum dihantar jiran ke hospital untuk rawatan.

“Saya tak sangka arwah meninggal dunia kerana selepas disengat, dia masih sedar. Tetapi, sejam sebelum meninggal dunia pada jam 5 petang, tubuhnya menggigil,” katanya ketika ditemui di rumahnya di sini, semalam.

Rakiah berkata, kejadian berlaku ketika dia bersama arwah dan anak bongsu, Tengku Hanizan Irfan, 2, dalam perjalanan pulang ke rumah mereka dengan menunggang motosikal selepas mengambil arwah yang bersekolah di Tadika Tanjung Demong kira-kira dua kilometer dari rumah mereka.


“Ketika itu arwah duduk di belakang manakala adiknya di bakul hadapan. Bagaimanapun, sebaik tiba di tempat kejadian, satu sarang tebuan yang melekat di dahan sebatang pokok gelam di tepi jalan, tiba-tiba jatuh menyebabkan tebuan berterbangan dari sarang dan menyerang kami.

“Sebaik disengat, saya memberhentikan motosikal sebelum kami lari menyelamatkan diri ke rumah jiran kira-kira 100 meter dari tempat kejadian,” katanya.

Rakiah dan Tengku Hanizan turut disengat beberapa tebuan ketika melarikan diri.

Dia bagaimanapun bernasib baik tidak mengalami kecederaan serius di kepala kerana memakai topi keledar selain sempat melilit kepala anak bongsunya dengan kain ketika kejadian.

“Arwah Tengku Hafizul kanak-kanak aktif dan periang. Bagaimanapun, guru tadikanya ada memaklumkan dia menjadi pendiam selain enggan makan nasi pada hari kejadian dan tidak sangka perubahan sikapnya itu petanda dia akan meninggalkan kami sekeluarga.

“Walaupun sedih, saya reda dan menganggap kejadian sebagai ketentuan Ilahi,” katanya.

Menurutnya, sarang tebuan itu sudah beberapa minggu berada di pokok berkenaan dan dipercayai terkoyak akibat dihuni terlalu banyak tebuan.

Ketika kejadian, bapa mangsa, Tengku Anuar Tengku Hussin, 34, yang bekerja sebagai nelayan berada di laut.

Jenazah arwah dikebumikan di Tanah Perkuburan Islam Kampung Pengkalan Nyireh jam 10 pagi semalam.

p/s aku petik daripada mymetro...Allah Taala lebih menyayangimu dik sbb itulah DIA menjemputmu dahulu. Tempatmu di dalam syurga juga pasti. Malah akan menunggu ibu bapamu untuk ke syurga bersama-sama. sedangkan kami ini, akan ditimbang amal kebaikan kami dan balasan yang baik atau buruk akan kami hadapi. MOga adik
Tengku Hafizul Hafiq Tengku Anuar ditempatkan di dalam syurga firdaus.Amin. seMOga keluarga Tengku Anuar Tengku Hussin tabah dengan ujian yang berat ini. Amin.

Al-quran sebagai Pembela di Hari akhirat - kisah tauladan





Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an.


Telah bersabda Rasulullah S.A.W :" Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"
Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan
kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayah dan ibunya pula, yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"
Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."