Ahad, 18 November 2012

PErang Khaibar..dendam drp kekalahan inilah yg menyebabkan Yahudi berterusan menyerang Gaza dan Khan Younis..


Khaibar adalah daerah yang ditempati oleh kaum Yahudi setelah diusir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Madinah tatkala mereka melanggar perjanian damai. Di sana mereka menyusun makar untuk melampiaskan dendamnya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Islam, dan kaum muslimin.
Dendam Yahudi memang telah menumpuk; mulai terusirnya Bani Qainuqa, Bani Nadhir, terbunuhnya dua tokoh mereka, hingga pembantaian terhadap Bani Quraizhah dan sejumlah tokoh mereka yang dibunuh oleh kaum muslimin.
Telah lewat pembahasan bahwa kaum Yahudi adalah penggerak pasukan Ahzab pada Perang Khandaq. Ini berarti kali yang keempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi umat Yahudi agar kita mengetahui bagaimana sejarah hitam umat Yahudi dan dendam mereka yang sangat mendalam terhadap Islam.
Pasukan Berangkat
Pada bulan Muharram tahun ketujuh Hijriah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama 1400 sahabat yang ikut di Hudaibiyah berangkat menuju Khaibar. Telah kita ketahui bahwa sepulang mereka dari Hudaibiyah Allah menurunkan ayat sebagai janji kemenangan dari-Nya dan perintah untuk memerangi Yahudi di Khaibar dalam firman-Nya:
Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Fath: 20)
Ulama ahli tafsir mengatakan bahwa Allah menjanjikan harta rampasan (ghanimah) yang banyak kepada kaum muslimin, sebagai pendahuluannya adalah harta rampasan yang mereka peroleh pada Perang Khaibar itu. Adapun orang-orang badui atau munafik tatkala mereka mengetahui para sahabat akan menang dan mendapat rampasan perang, maka mereka untuk ikut dalam peperangan tersebut supaya mendapat bagian dari ghanimah maka Allah berfirman,
Orang-orang Badui yang tinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan, “Biarkan kami, niscaya kami mengikuti kamu.’ Mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah, ‘Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami; demikian Allah telah menetapkan sebelumnya.’ Mereka mengatakan, ‘Sebenarnya kamu dengki kepada kami.’ Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali.” (QS. Al-Fath: 15)
Demikian itu karena Allah telah mengkhususkan rampasan Perang Khaibar sebagai balasan jihad, kesabaran, dan keikhlasan para sahabat yang ikut di Hudaibiyah saja.
Para sahabat berangkat dengan penuh keyakinan dan besar hati terhadap janji Allah, sekalipun mereka mengetahui bahwa Khaibar merupakan perkampungan Yahudi yang paling kokoh dan kuat dengan benteng berlapis dan persenjataan serta kesiapan perang yang mapan. Mereka berjalan sambil bertakbir dan bertahlil dengan mengangkat suara tinggi hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammelarang mereka dan memerintahkan agar merendahkan suara sebab Allah Maha Dekat, bersama kalian, tidak tuli, dan tidak jauh. (Bukhari: 4205)
Sebelum subuh mereka tiba di halaman Khaibar, sedang Yahudi tidak mengetahuinya. Tiba-tiba ketika berangkat ke tempat kerja, mereka (orang-orang Yahudi) dikejutkan dengan keberadaan tentara; maka mereka berkata, “Ini Muhammad bersama pasukan perang.” Mereka kembali masuk ke dalam benteng dalam keadaan takut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allahu Akbar, binasalah Khaibar. Sesungguhnya jika kami datang di tempat musuh maka hancurlah kaum tersebut.” (Bukhari dan Muslim)
Kaum muslimin menyerang dan mengepung benteng-benteng Yahudi, tetapi sebagian sahabat pembawa bendera perang tidak berhasil menguasai dan mengalahkan mereka hinga Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Besok akan kuserahkan bendera perang kepada seseorang yang Allah dan Rasul-Nya mencintai dan dia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memenangkan kaum muslimin lewat tangannya.” Maka para sahabat bergembira dengan kabar ini dan semua berharap agar bendera tersebut akan diserahkan kepadanya, hingga Umar radhiallahu ‘anhuberkata, “Aku tidak pernah menginginkan kebesaran, kecuali pada Perang Khaibar.”
Pada pagi hari itu para sahabat bergegas untuk berkumpul di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing berharap akan diserahi bendera komando. Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Dimanakah Ali?” Meraka menjawab, “Dia sedang sakit mata, sekarang berada di perkemahannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Panggillah dia.” Maka mereka memanggilnya. Ali radhiallahu ‘anhu datang dalam keadaan sakit mata (trahom), lalu Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam meludahi matanya dan sembuh seketika, seakan-akan tidak pernah merasakan sakit. Beliau menyerahkan bendera perang dan berwasiat kepadanya, “Ajaklah mereka kepada Islam sebelum engkau memerangi mereka. Sebab, demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah seorang di antara mereka lewat tanganmu maka sungguh itu lebih baik bagimu dari pada onta merah (harta bangsa Arab yang paling mewah ketika itu).” (Muslim)
Perang Tanding
Tatkala berlangsung pengepungan benteng-benteng Yahudi, tiba-tiba pahlawan andalan mereka bernama Marhab menantang dan mengajak sahabat untuk perang tanding. Amir bin Akwa radhiallahu ‘anhu melawannya dan beliau terbunuh mati syahid. Lalu Ali radhiallahu ‘anhu melawannya hingga membunuhnya dan menyebabkan runtuhnya mental kaum Yahudi dan sebagai sebab kekalahan mereka.
Benteng Khaibar terdiri dari tiga lapis, dan masing-masing terdiri atas tiga benteng. Kaum muslimin memerangi dan menguasai benteng demi benteng. Setiap kali Yahudi kalah dari pertahanan pada satu benteng, mereka berlindung dan berperang dalam benteng lainnya hingga kemenagan mutlak berada di tangan kaum muslimin.
Korban Perang
Dalam peperangan ini terbunuh dari kaum Yahudi puluhan orang, sedang wanita dan anak-anak ditawan. Termasuk dalam tawanan adalah Shofiyah binti Huyai yang jatuh di tangan Dihyah al-Kalbi lalu dibeli oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam darinya. Beliau mengajaknya masuk Islam lalu menikahinya dengan mahar memerdekakannya. Adapun yang mati syahid dari kaum muslimin sebanyak belasan orang.
Di antara yang mati syahid adalah seorang badui yang datang dan masuk Islam dan memohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk hijrah dan tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemperoleh rampasan Perang Khaibar maka beliau memberinya bagian, tetapi dia berkata, “Wahai Rasulullah, aku mengikutimu bukan untuk tujuan ini, melainkan agar aku terkena panah di sini (sambil memberi isyarat pada lehernya) sehingga aku masuk surga.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Jika kamu jujur kepada Allah maka pasti Allah buktikan.” Tidak lama kemudian jenazahnya dibawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan terluka pada tempat yang dia isyaratkan sebelumnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Orang ini jujur kepada Allah. Oleh karenanya, Allah memenuhi niatnya yang baik.” Lalu beliau mengafaninya dan memakamkannya. (Mushonnaf Abdurrozaq dengan sanad yang baik, 5:276)
Daging Beracun
Kaum Yahudi tidak pernah dan tidak akan berhenti dari makar buruk terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Islam karena tabiat mereka, sebagaimana digambarkan oleh Allah dalam Alquran:
Mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak.” (QS. Ali Imron: 112)
Tatkala mereka kalah dari Perang Khaibar dan beberapa kali upaya untuk membunuh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam gagal, maka mereka bermaksud untuk membunuh beliau dengan siasat baru. Seorang wanita Yahudi berperan besar dalam makar buruk ini, yaitu memberi hadiah berupa menyuguhkan hidangan daging kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyisipkan racun yang banyak padanya.
Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakan, daging tersebut mengabari beliau bahwa ia beracun. Maka beliau memuntahkannya. Ini merupakan mukjizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih mulia daripada mukjizat Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang memahami bahasa semut sebab ia makhluk hidup yang bernyawa memiiki mulut untuk berbicara, sedangkan sepotong daging tersebut sebagai makhluk yang mati bahkan telah matang dipanggang dengan api.
Adapun Bisri bin Baru radhiallahu ‘anhu, yang ikut makan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggal dunia karena racun tersebut. Sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammembunuh wanita ini sebagai qishosh.
Perdamaian
Setelah umat Yahudi kalah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermaksud untuk mengusir mereka dari Khaibar. Akan tetapi mereka memohon kepada beliau agar membiarkan mereka mengurusi pertanian dengan perjanjian bagi hasil, maka Rasulullah menerima permohonan itu dengan syarat kapan saja beliau menghendaki maka beliau berhak untuk mengusir mereka. Hingga akhirnya mereka diusir olehUmar bin Khaththab di zaman kekhalifahannya setelah beberapa kali mereka berbuat kejahatan terhadap kaum muslimin.
Pembagian Rampasan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi rampasan perang kepada sahabat yang ikut perang yang berjumlah 1400 orang. Namun, seusai perang ini para rombongan Muhajirin berjumlah 53 orang dari Habasyah yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu datang dan bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Khaibar. Beliau sangat gembira dengan kedatangan mereka. Beliau merangkul Ja’far radhiallahu ‘anhu serta menciumnya seraya bersabda, “Aku tidak mengetahui apakah aku bergembira karena menang dari Khaibar ataukah karena kedatangan rombongan Ja’far.” (Shahih Abu Dawud: 5220)
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi mereka bagian dari rampasan perang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi bagian kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhudan beberapa orang dari suku Daus yang baru datang dalam keadaan Islam. Semua ini beliau lakukan dengan izin dan keikhlasan dari sahabat yang ikut Perang Khaibar dan karena mereka ini terhalang oleh udzur, jika tidak maka pasti mereka akan ikut berperang.
Bahaya Ghulul
Ghulul adalah mengambil rampasan perang sebelum dibagi. Mid’am, seorang pelayan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggal dunia akibat terkena panah. Maka sahabat mengatakan, “Alangkah nikmat, baginya surga.” Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, demi Allah, sesungguhnya pakaian yang diambilnya dari rampasan Khaibar sebelum dibagi menjadi bahan bakar api neraka.” Mendengar ini, ada seseorang yang datang mengaku, “Ini satu atau dua tali sandal aku peroleh sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu termasuk neraka.” (Bukhari dan Muslim)
Yahudi Fadak
Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengauasai dan mengalahkan Khaibar maka Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang Yahudi di Fadak –sebelah utara Khaibar-, mereka segera mengirim utusan kepada Rasulullah untuk perjanjian damai dengan menyerahkan separuh bumi Fadak kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima tawaran tersebut dan beliau khususkan untuk dirinya sebab ia termasuk rampasan perang (fai) yang diperoleh tanpa perang (pertempuran).
Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi Yahudi di Wadi Quro hingga mereka menyerah dan kalah. Mengetahui hal ini, Yahudi Taima’ juga segera berdamai dengan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membayar jizyah (upeti, red.)
Pelajaran
  1. Dalam peperangan Khaibar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan makan daging keledai piaraan.
  2. Tampak mukjizat kenabian seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meludahi mata Aliradhiallahu ‘anhu lalu sembuh, daging yang mengabari beliau bahwa ia mengandung racun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meniup tiga kali pada bekas pukulan pedang yang mengenai lutut Salah bin Akwa radhiallahu ‘anhu lalu dia tidak kesakitan setelah itu.
  3. Boleh berdamai dengan Yahudi dalam waktu yang ditentukan dan boleh memerangi orang kafir pada bulan haram. Lihat Sirah Nabawiiyyah karya Dr. Mahdi Rizqulloh Ahmad: 479-492.
Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 1 Tahun Kesebelas 1432 H

Jumaat, 16 November 2012

UCAPAN DR MORSI MENGGERUNKAN ISRAEL.

"Saya memberitahu mereka bagi semua orang Mesir bahawa Mesir hari ini tidak sama macam Mesir semalam dan bahawa Arab hari ini adalah berbeza daripada orang-orang Arab semalam," katanya selepas solat mingguan Islam di masjid Kaherah.

"Kaherah tidak akan meninggalkan Gaza sendiri."
kami tentera tak takut mati..

Ahad, 21 Oktober 2012

JANGAN BANGGA DAN SOMBONG, MERASA DIRI HEBAT!



Di akhir zaman ini ramai dari kalangan ahli abid (mereka yang banyak amal ibadahnya) tertipu dengan banyaknya ibadah yang telah mereka lakukan. Perkara ini terjadi apabila si ahli abid melakukan setiap ibadah yang dikerjakannya tanpa merasakan perbuatan dan amalannya itu adalah dengan izin dan rahmat Allah jua. Tanpa keizinan Allah, tanpa rahmat dan kasih sayang Allah serta tanpa kudrat dan Iradah dari Allah SWT, kita semua lemah tidak mampu berbuat apa-apa. Kalau tidak kerana Allah SWT yang telah mengizinkan, jangan kata hendak menggerakkan lidah, malah duduk, bangun, rukuí, dan sujud menyembah Allah SWT pun kita tidak akan mampu lakukan.

Maka patutkah kita merasa bangga dan sombong serta merasa hebat sekiranya kita berjaya dan berkebolehan dalam melaksanakan sesuatu amalan? Kalau kita mampu untuk bangun malam beribadah dan banyak melakukan solat sunat hingga kita menjadi abid, siapakah yang hebat? Kita hebatkah atau Allah yang hebat? Tentulah Allah yang hebat kerana Allah telah memberikan kita kemampuan untuk beribadah, kalau kita bersolat, berpuasa, menutup aurat, mampu menulis artikel, punya pangkat dan darjat, memandu dan menunggang kereta atau motosikal atau sebagainya, apakah itu semua keupayaan kita? Tidak sama sekali! Semua itu adalah dengan rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Subhanallah! Tanpa sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim Allah tentu kita akan ingkar dan sesat sepertimana orang kafir tanpa kita sedari. Maka sentiasalah kita melahirkan rasa syukur kepadaNya.

WANG YANG SAMA : NILAI BERTUKAR MENGIKUT TEMPAT

Ingatlah, wahai pembaca yang budiman, sekiranya kita angkuh, riak (menunjuk-nunjuk), ujub (merasa bangga diri) dan takabur (sombong dengan nikmatNya) dengan apa yang ada pada kita, tidak mustahil suatu hari nanti Allah SWT akan menarik semula nikmat-nikmatNya yang telah dikurniakan kepada kita. Katalah ketika ini kita tergolong di dalam golongan orang yang berharta, kaya raya, harta melimpah ruah lalu kita tidak sedar diri (takabur). Kononnya kitalah manusia yang paling mewah dan kaya raya di dunia ini. Hasil dari sifat takabur dan angkuh itu sudah tentu kita menjadi seorang yang kedekut, bakhil, tamak dengan harta.

Sepuluh sen untuk membantu anak-anak yatim dan fakir miskin pun difikir seribu kali. Di kedai atau supermarket, lima puluh ringgit itu terlalu kecil nilainya, kenalah bawa sekurang-kurangnya dua ratus ringgit, itu pun baru syarat minima. Berbeza pula dengan situasi apabila diusung kotak tertera DERMA AMAL PALESTIN atau DERMA UNTUK ANAK YATIM lantas nilai lima puluh ringgit itu berubah menjadi nilai yang terlalu besar, seperti satu ribu ringgit. Jika di tangan hanya terdapat wang kertas bernilai lima puluh ringgit, mulalah hati berbisik: Tak ada duitlah nak derma, atau lalu mulut berkata: Ala! Tak bawa duitlah syeikh! Lain kalilah!.

ILMU : MENINGGIKAN DARJAT, JUGA BOLEH MENURUNKAN MARTABAT

Harta itu hanya pinjaman Allah, sekelip mata sahaja Allah boleh papa kedanakan si kaya yang sombong. Andai kata seseorang itu dikurniakan ilmu kepadanya sehingga dengan ilmunya itu jadilah dia seorang yang terkenal atau dikenali ramai, disanjung, dan dipuja maka mulalah penyakit hati menyerang jantung kalbunya. Jadilah dia seorang ahli ilmu yang bongkak, rasa diri lebih; lebih bijak dari orang lain, pandangan dan pendapat orang lain semuanya salah, pandangannya sajalah yang tepat dan betul!

Walaupun kita menjadi seorang alim ulama' atau penulis artikel mahupun sesiapa sahaja semuanya tidak membuktikan kehebatan kita, bukan juga kepandaian dan kepintaran kita, tetapi semuanya adalah pinjaman daripada Allah SWT semata-mata. Malah ilmu itu satu amanah daripada Allah SWT, di akhirat kelak Allah akan persoalkan kepada kita:

Ilmu yang penuh di dalam dadamu wahai hambaku, ke manakah kamu salurkan? Adakah untuk mengajak manusia menyembah Aku atau dengan ilmu itu engkau menyesatkan dirimu juga orang lain?.
ATAU...
Alangkah malangnya ketika itu sekiranya jawapan yang kita persembahkan kepada Allah SWT (kerana di akhirat nanti tidak boleh lagi untuk kita berbohong dan berselindung apa-apa pun daripada Allah SWT):

Tuhanku, aku gunakan ilmu yang Engkau kurniakan untukku dahulu ke jalan kemurkaanMu, dengan ilmu itu aku ambil peluang kemewahan, memandang rendah dan hina pada si jahil yang sepatutnya aku yang bertanggungjawab membasmi kejahilan di dada hamba-hambaMu, semakin aku lupa padaMu, semakin aku ego, sombong dan rasa diriku tuan, malah bila orang lain sesekali buat kesalahan, aku hukum mereka, seolah-olah aku Tuhan.

MERASAKAN DIRI LEBIH BANYAK DOSA DARI AMALAN

Maka menangislah golongan ahli ilmu yang tertipu dengan ilmunya itu. Menurut Matan Zubat: Ahli ilmu yang fasik akan dibenci oleh Allah dan akan dihumbankan ke dalam lubuk neraka lebih dahulu daripada orang kafir penyembah berhala. Wal 'iyazubillah.

Alangkah beruntungnya ketika Allah SWT minta pengakuan dari hambanya di padang Mahsyar kelak kita dapat menjawab sekurang-kurangnya begini:

Wahai Tuhanku, sesungguhnya dengan ilmu yang Engkau kurniakan padaku, kugunakan sebaik-baik penggunaan. Aku mengajak manusia yang jahil ke arah kebenaran, aku menyeru umat manusia agar menyembahMu, sujud syukur pada-Mu, aku mengajak manusia beriman padaMu, pada Rasul-Mu dan pada hari kemudian, pada syurga dan nerakaMu, ku ajak lagi manusia agar berfikir tentang keagungan dan kehebatanMu menjadikan alam yang luas terbentang itu......

Begitulah jawapan orang yang alim yang terpimpin lagi dikasihi oleh Allah SWT. Semakin berilmu semakin dia merendah diri, semakin ia merasakan dirinya lebih banyak dosa kalau hendak dibandingkan dengan orang lain, seringkali juga merasakan dirinya tiada apa-apa nilainya, yang ada hanya seribu kelemahan dan kekurangan. Inilah resam padi, makin berisi, semakin tunduk ke bawah. Selamatlah golongan ini. Ilmu yang beginilah yang dikatakan membawa cahaya kepada mereka yang berilmu. Ilmu merupakan cahaya yang menerangi hidup seseorang insan yang sedang teraba-raba dalam kegelapan.

Seperti kata Imam As-Syafie: "Semakin banyak ilmuku, semakinku insafi diri, bahawa terlalu banyak yang aku tidak ketahui..."

LUBUK NERAKA YANG TERBAWAH SEKALI

Ilmu sepatutnya mengajak manusia untuk mengenal dan mentauhidkan Allah. Semakin dalam ilmu yang dipelajari semakin ëdalamí pula lupanya kepada Allah, semakin tinggi ilmunya semakin ia kufur dengan Allah. Tanda ilmu itu tidak berkat, semakin kita menuntut ilmu, semakin angkuh dan sombong pula empunya diri, sama ada dengan Allah mahupun sesama manusia. Semakin berilmu semakin rasa diri hebat, tidak langsung merasa hebatnya Allah SWT. Semakin menuntut ilmu, penyakit hati semakin tebal bersarang dalam dada seperti sombong, ego, riak, ujub, takabur, merasa diri mulia, memandang rendah pada orang lain dan sebagainya.

Andai kata kita tidak sempat bertaubat sedangkan dalam diri kita penuh dengan penyakit-penyakit hati itu, ingatlah tempat yang selayaknya adalah lubuk neraka yang terbawah sekali. Lebih berat lagi para alim ulama' yang tidak beramal dengan ilmunya dan tidak menyampaikan ilmu yang ada di dalam dadanya; pasti akan mendapat laknat Allah. Mereka masuk neraka lebih dahulu dari penyembah berhala. Marilah bersama-sama kita berdoa agar kita semua menjadi ahli ilmu yang bakal menerangi alam fana ini dengan cahaya ilmu yang kita pelajari. Jauh sekali untuk merasa bangga dengan ilmu yang ada, malah sedar jika kita merasa diri hebat, pasti ada yang lebih hebat.

Sematkan dalam dada dan hati: "Aku akan membasmi kejahilan kerana kejahilan itu bahaya dan mampu menjerumuskan diriku ke dalam neraka dan mampu juga menghancurkan perpaduan umat Islam di dunia ini."

KESIMPULAN

Perlu kita beringat bahawa ilmu dunia sahaja tidak mampu untuk kita memiliki tempat di syurga Allah SWT, seandainya tidak ditunjangi dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Perlu juga kita dalami risalah yang Allah SWT sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW iaitu Al-Quran dan As-Sunnah.

Sahabat-sahabat yang dikasihi Allah sekalian, ilmu itu adalah nur (cahaya), yang menyinari hati yang putih bersih dan bukannya hati yang hitam tebal dengan maksiat. Hati yang bersih pula tidak kita perolehi dengan begitu mudah. Untuk memilikinya perlu ada usaha yang berterusan yakni istiqamah dengan amal kebaikan dan menjauhi kemungkaran yang dihujani dengan kesabaran serta digauli dengan keikhlasan.

Memang mudah untuk penulis nukilkan untuk jadi bahan bacaan buat sahabat-sahabat sekalian. Peringatan buat diri sebagai penulis dan buat pembaca kesemuanya. Hidayah datangnya daripada Allah, kita memohon daripadaNya. Selain berdoa, dengan berfikir (dan beringat) maka InsyaAllah hidayahNya akan kunjung tiba yakni sebagai usaha sebagai seorang hamba.

Ilmu itu kalam ilahi, membawa jalan menuju syurgawi, andai terbuka jalan yang hitam, cepat-cepatlah insafi diri.

Wallahuíalam.

Read more: http://cahayamukmin.blogspot.com/2012/03/ilmu-itu-cahaya-jahil-itu-bahaya.html#ixzz2A0FAp1Jv

Anak Perisai Api Neraka


Anak Perisai Api Neraka

Riwayat: 
 Bukhari dan Muslim
Hadith: 
Daripada Aisyah R.ha katanya, “Datang kerumahku seorang perempuan meminta (makanan), tidak ada sesuatu disisiku melainkan sebiji kurma lalu aku beri kepadanya”. Maka dia pun membahagi sebiji kurma tadi kepada dua orang anaknya dan dia sendiri tidak memakannya. Kemudian dia pun keluar (daripada rumah Aisyah). Setelah Nabi SAW datang kepada kami lalu aku pun memberitahunya (peristiwa tersebut), maka baginda bersabda, “Sesiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan ini dengan sesuatu lalu dia melayan (memelihara) mereka dengan baik adalah mereka menjadi penghalang daripada api neraka”.
Huraian Hadith: 
  1. Orang Islam disuruh memenuhi hajat orang yang meminta sekali pun dengan pertolongan yang sedikit.
  2. Ibu bapa mestilah mengutamakan keperluan anak-anaknya seperti makan, minum, pakaian dan sebagainya.
  3. Ibu bapa yang mendidik dan mengasuh anaknya dengan sempurna dijamin bebas daripada api neraka.
  4. Hadis ini menunjukkan kelebihan menjaga dan mendidik anak-anak perempuan. Ia akan menjadi perisai daripada api neraka jika dilakukan seperti yang diperintah Allah dan rasulnya.

Rabu, 17 Oktober 2012

Khalifah Umar Abd Aziz ( 682-720M )


Nama sebenar beliau ialah Abu Jaafar Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam, lahir pada tahun 63H (682M) dan meninggal dunia pada 101H (720M). Beliau adalah pemimpin @ khalifah kepada Bani Umaiyyah yang ke 6, dan telah memerintah selama 2 tahun 5 bulan.

Ayahnya adalah Abdul-Aziz bin Marwan, gabenor Mesir dan adik kepada Khalifah Abdul Malik. Ibunya adalah Ummu Asim binti Asim. Umar adalah cicit kepada Khulafa Ar-Rasyidin kedua Umar bin Khattab.

Umar bin Abdul Aziz dibesarkan di Madinah dengan bimbingan Ibnu Umar, iaitu salah seorang sahabat nabi yang paling banyak meriwayat hadis. Umar telah menghafaz al-Quran sejak masih kecil lagi serta bergaul dengan para pemuka ahli feqah dan ulama. Merantau ke Madinah untuk menimba ilmu pengetahuan. Beliau telah berguru dengan beberapa tokoh terkemuka seperti Imam Malik bin Anas, Urwah bin Zubair, Abdullah bin Jaafar, Yusuf bin Abdullah dan sebagainya. Kemudian beliau melanjutkan pelajaran dengan beberapa tokoh terkenal di Mesir.

Beliau telah dipanggil balik ke Damsyik oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan apabila bapanya meninggal dunia dan dikahwinkan dengan puteri Khalifah, Fatimah binti Abdul Malik (sepupunya).


Sifat-Sifat Peribadi

Beliau mempunyai keperibadian yang tinggi, disukai ramai dan warak yang diwarisi dari datuknya Saidina Umar bin Al-Khattab. Baginda amat berhati-hati dengan harta terutamanya yang melibatkan harta rakyat. Sesungguhnya kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menyediakan dua lilin di rumahnya, satu untuk kegunaan urusan negara dan satu lagi untuk kegunaan keluarga sendiri tentunya telah diketahui umum dan tidak perlu diulang-ulang.

Sebagai seorang yang zuhud, kehidupannya semasa menjadi Gabenor Madinah dan Khalifah adalah sama seperti kehidupannya semasa menjadi rakyat biasa. Harta yang ada termasuk barang perhiasan isterinya diserahkan kepada Baitulmal dan segala perbelanjaan negara berdasarkan konsep jimat-cermat dan berhati-hati atas alasan ia adalah harta rakyat. Ini terbukti apabila beliau dengan tegasnya menegur dan memecat pegawai yang boros dan segala bentuk jamuan negara tidak dibenarkan menggunakan harta kerajaan.


Umar bin Abdul Aziz Sebagai Khalifah

Beliau dibai'ah / dilantik menjadi Khalifah pada tahun 98H (717M) setelah kematian sepupunya, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik atas wasiat khalifah tersebut. Padahal sebenarnya dia tidak mahukan jawatan itu.

Oleh kerana itu dia mengumpulkan orang-orang di masjid untuk solat berjamaah lalu berpidato. Setelah menyampaikan pujian kepada Allah dan bersalawat kepada Nabi, dalam pidatonya dia mengatakan,

“Wahai manusia! Saya telah diuji untuk menjalankan tugas ini tanpa diminta pendapat, permintaan dari saya, atau musyawarah kaum Muslimin. Maka sekarang ini saya membatalkan bai'ah yang kalian berikan kepada diri saya dan untuk selanjutnya pilihlah khalifah yang kalian suka!”

Tetapi orang-orang yang hadir dengan serempak mengatakan, “Kami telah memilih engkau wahai Amirul Mukminin. Perintah lah kami dengan kebahagiaan dan keberkatan!”

Setelah itu dia lalu menyuruh semua orang untuk bertakwa, untuk tidak menyukai dunia dan menyukai akhirat, kemudian berkata, “Wahai manusia! Barang siapa mentaati Allah, wajib ditaati, siapa yang mendurhakai-Nya tidak boleh ditaati oleh seorang pun. Wahai manusia! Taatilah saya selama saya mentaati Allah dalam memerintahmu dan jika saya mendurhakai-Nya tidak ada seorang pun yang boleh mentaati saya.” Lalu dia turun dari mimbar.

Kenyataan Khalifah Abdul Aziz yang terakhir di atas iaitu agar taat kepadanya selagi dia taat pada Allah, dan jangan taat padanya jika dia tidak taat kepada Allah, adalah sama sepertimana yang diucapkan oleh Saidina Abu Bakar ketika beliau dilantik menjadi khalifah. Kata-kata Saidina Abu Bakar seperti berikut;

".....Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan rasulnya. tetapi jika aku tidak mematuhi keduanya maka tiada kewajipan taat atas kalian terhadapku......" (Al Bidayah Wan Nihayah - Imam Ibnu Katsir, mengatakan sanadnya adalah sahih).

Maka kita tanya diri kita sekarang, adakah kerajaan dalam negara kita sekarang ini mematuhi Allah? Sedangkan Hukum Hudud yang wajib dan diperintahkan di dalam AlQuran pun satu habuk kita tidak laksanakan.


Hari kedua dilantik menjadi khalifah, beliau menyampaikan khutbah umum. Dihujung khutbahnya, beliau berkata “Wahai manusia, tiada nabi selepas Muhammad s.a.w dan tiada kitab selepas alQuran, aku bukan penentu hukum malah aku pelaksana hukum Allah, aku bukan ahli bid’ah malah aku seorang yang mengikut sunnah, aku bukan orang yang paling baik dikalangan kamu sedangkan aku cuma orang yang paling berat tanggungannya dikalangan kamu, aku mengucapkan ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang yang paling banyak dosa di sisi Allah”

Beliau kemudian duduk dan menangis "Alangkah besarnya ujian Allah kepadaku" sambung Umar Ibn Abdul Aziz.

Beliau pulang ke rumah dan menangis sehingga ditegur isteri “Apa yang Amirul Mukminin tangiskan?” Beliau menjawab “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jawatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai, rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ (orang-orang fakir) kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat jawab hujah-hujah mereka sebagai khalifah kerana aku tahu, yang menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah s.a.w." Isterinya juga turut mengalirkan air mata.

Setelah mengambil-alih tampuk pemerintahan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah mengubah beberapa perkara yang lebih mirip kepada sistem feudal. Di antara perubahan awal yang dilakukannya ialah :

1) Menghapuskan cacian terhadap Saidina Ali bin Abu Thalib dan keluarganya yang disebut dalam khutbah-khutbah Jumaat dan digantikan dengan beberapa potongan ayat suci al-Quran

2) Merampas kembali harta-harta yang disalah-gunakan oleh keluarga Khalifah dan mengembalikannya ke Baitulmal

3) Memecat pegawai-pegawai yang tidak cekap, menyalah-gunakan kuasa dan pegawai yang tidak layak yang dilantik atas pengaruh keluarga Khalifah

4) Menghapuskan pegawai peribadi bagi Khalifah sebagaimana yang diamalkan oleh Khalifah terdahulu. Ini membolehkan beliau bebas bergaul dengan rakyat jelata tanpa sekatan tidak seperti khalifah dahulu yang mempunyai pengawal peribadi dan askar-askar yang mengawal istana yang menyebabkan rakyat sukar berjumpa.

Selain daripada itu, beliau amat mengambil-berat tentang kebajikan rakyat miskin di mana beliau juga telah menaikkan gaji buruh sehingga ada yang menyamai gaji pegawai kerajaan.

Beliau juga amat menitik-beratkan penghayatan agama di kalangan rakyatnya yang telah lalai dengan kemewahan dunia. Khalifah umar telah memerintahkan umatnya mendirikan solat secara berjamaah dan masjid-masjid dijadikan tempat untuk mempelajari hukum Allah sebagaimana yang berlaku di zaman Rasulullah s.a.w dan para Khulafa' Ar-Rasyidin. Baginda turut mengarahkan Muhammad bin Abu Bakar Al-Hazni di Mekah agar mengumpul dan menyusun hadith-hadith Rasulullah s.a.w.

Dalam bidang ilmu pula, beliau telah mengarahkan cendikiawan Islam supaya menterjemahkan buku-buku kedoktoran dan pelbagai bidang ilmu dari bahasa Greek, Latin dan Suryani ke dalam bahasa Arab supaya senang dipelajari oleh umat Islam.

Dalam mengukuhkan lagi dakwah Islamiyyah, beliau telah menghantar 10 orang pakar hukum Islam ke Afrika Utara serta menghantar beberapa orang pendakwah kepada raja-raja India, Turki dan Barbar di Afrika Utara untuk mengajak mereka kepada Islam. Di samping itu juga beliau telah menghapuskan bayaran Jizyah yang dikenakan ke atas orang yang bukan Islam dengan harapan ramai yang akan memeluk Islam.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal dengan keadilannya telah menjadikan keadilan sebagai keutamaan pemerintahannya. Beliau mahu semua rakyat dilayan sama adil tidak mengira keturunan dan pangkat supaya keadilan dapat berjalan dengan sempurna. Keadilan yang beliau perjuangan adalah menyamai keadilan di zaman datuknya, Khalifah Umar Al-Khatab, yang sememangnya dinanti-nantikan oleh rakyat yang selalu ditindas oleh pembesar yang angkuh dan zalim sebelumnya.

Hari-hari terakhir Umar bin Abdul Aziz

Ketika menjelang sakaratul mautnya, umat Islam datang berziarah melihat kedhaifan hidup khalifah sehingga ditegur oleh menteri kepada isterinya, "Gantilah baju khalifah itu", dibalas isterinya, "Itu saja pakaian yang khalifah miliki".

Apabila beliau ditanya “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau mau mewasiatkan sesuatu kepada anak-anakmu?”

Umar Abdul Aziz menjawab: "Apa yang ingin kuwasiatkan? Aku tidak memiliki apa-apa."

"Mengapa engkau tinggalkan anak-anakmu dalam keadaan tidak memiliki?"

"Jika anak-anakku orang soleh, Allah lah yang menguruskan orang-orang soleh. Jika mereka orang-orang yang tidak soleh, aku tidak mahu meninggalkan hartaku di tangan orang yang mendurhakai Allah lalu menggunakan hartaku untuk mendurhakai Allah."

Pada waktu lain, Umar bin Abdul Aziz memanggil semua anaknya dan berkata: "Wahai anak-anakku, sesungguhnya ayahmu telah diberi dua pilihan, pertama: menjadikan kamu semua kaya dan ayah masuk ke dalam neraka, kedua: kamu miskin seperti sekarang dan ayah masuk ke dalam syurga (kerana tidak menggunakan wang rakyat). Sesungguhnya wahai anak-anakku, aku telah memilih syurga." (beliau tidak berkata : aku telah memilih kamu susah)

Anak-anaknya ditinggalkan tidak berharta dibandingkan anak-anak gabenor lain yang kaya. Setelah kejatuhan Bani Umayyah dan masa-masa selepasnya, keturunan Umar bin Abdul Aziz adalah golongan yang kaya berkat doa dan tawakkal Umar bin Abdul Aziz.

Beliau akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah memerintah selama 2 tahun 5 bulan. Menurut riwayat, beliau meninggal kerana dibunuh (diracun) oleh pembantunya.

2 tahun 5 bulan satu tempoh yang terlalu pendek bagi sebuah pemerintahan, tetapi Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah membuktikan sebaliknya. Dalam tempoh tersebut, kerajaan Umaiyyah semakin kuat tiada pemberontakan dalaman, kurang berlaku penyelewengan, rakyat mendapat layanan yang sewajarnya dan menjadi kaya-raya hinggakan Baitulmal penuh dengan harta zakat kerana tiada lagi orang yang mahu menerima zakat. Kebanyakannya sudah kaya ataupun sekurang-kurangnya boleh berdikari sendiri.

Semua ini adalah jasa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang sangat masyhur, adil dan warak yang wajar menjadi contoh kepada pemerintahan zaman moden ini. Hanya dalam masa 852 hari dapat mengubah sistem pemerintahan ke arah pemerintahan yang diredhai Allah dan menjadi contoh sepanjang zaman. satu rekod yang sukar diikuti oleh orang lain melainkan orang yang benar-benar ikhlas!


Kesimpulan

Marilah sama-sama kita berusaha untuk melantik Perdana Menteri yang berjiwa seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang mana tidak KEDUNIAAN , ZUHUD serta TAWADHU'. Dan membahagikan kekayaan negara sama rata di kalangan rakyat. Adakah anda rasa itu mustahil? Tidak sama sekali sebenarnya. Janji ada kehendak, doa dan usaha, kemudian tawakkal pada Allah s.w.t.

Sedangkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz boleh lakukan di zamannya, mengembalikan kegemilangan zaman pemerintahan Khulafa Ar-Rasyidin, apa lagi kita di zaman sekarang yang penuh kemudahan dan teknologi. Yang menjadi masalah ialah semangat dan keyakinan kita saja yang kurang. Adakah kita hanya mahu menjadi PEMBACA kepada kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz tanpa mahu mengambil iktibar dan cuba lakukan sedemikian juga?

Ingatlah, jika kekayaan dibahagi sama rata, maka tidak akan wujud hasad dengki, rompakan, curi, ragut, pecah rumah, bunuh-membunuh kerana harta dan seumpamanya. Tidakkah anda nampak itu aman seamannya? Dan kepada golongan kaya raya yang makin mahu menambah kekayaan, untuk apa kamu mahu bertambah kaya lagi? Untuk menunjuk-nunjuk hebat di dunia yang sementara ini? Adakah kamu boleh hidup selamanya di atas dunia ini? Berapa tahun sangat umur kamu dapat bertahan? Sedarlah dan jelirlah kepada bisikan-bisikan syaitan yang menghasut nafsu kita agar tidak pernah puas dengan kekayaan yang sedia ada.

Buat apa kaya-raya sedangkan hidup dalam ketakutan dan kebimbangan? Bimbang harta dirompak, diragut, dirampas, anak kena culik, isteri kena culik, dikhianat dan sebagainya.

Jika kita teruskan dengan konsep dan kaedah yang ada sekarang ini, maka orang kaya akan terus bertambah kaya, dan yang miskin akan tersepit dan makin terkepit. Dan apabila disebut agar berusaha agar rakyat sama kaya semuanya, akan ada lah mulut-mulut 'mengada' yang mengatakan "tu nak suruh rakyat agar malas berusaha lah tu". Atau pun "ini nak suruh kerajaan beri subsidi selalu lah ni". Orang yang cakap begitu biasanya hanya fikir tentang 'perut' sendiri tetapi tidak menghayati dan memahami kesusahan yang dialami oleh saudara-saudara kita yang miskin dan susah di luar sana.

“Tidak beriman seorang daripada kamu sehingga dia mengasihi saudaranya seperti mana dia mengasihi dirinya sendiri.” (Hadith Riwayat Bukhari)

“Orang mukmin itu dalam kasih sayang dan kemesraan serta simpati sesama mereka bagaikan sebatang tubuh. Jika mana-mana anggota tubuh mengalami kesakitan, maka seluruh tubuh akan merasainya.” (Hadith Riwayat Bukhari)

Sedarlah, tidak semestinya semua usaha lebih dan rajin itu akan menjadi kan seseorang itu KAYA. Kadang-kadang, orang yang berusaha lebih, dia tetap miskin. Kadang-kadang orang berusaha sikit saja, tapi dia dah jadi kaya raya. Adakalanya orang-orang bawahan dia yang penat lelah mengkayakan dia.

Sedarlah, kekayaan dan kemiskinan itu adalah REZEKI dan UJIAN dari Allah s.w.t. Dia mahu uji dan tengok kita setakat mana kesabaran dan ketahanan kita digoda oleh harta benda. Hinggakan ada kalanya manusia merasakan harta benda itu dia sendiri yang punya, hingga langsung tidak sedar banyaknya AMANAH yang ada dalam hartanya yang nanti akan dipersoalkan di Hari Kiamat kelak.

“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang kerananya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur, dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keredhaan-Nya, dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Surah Al-Hadid : Ayat 20)

Sama-sama lah kita fikirkan dan guna akal yang Allah Ta'ala bagi ini dengan sebaik mungkin. Dan sedarlah, kita ini sudah sekian lama ditipu oleh PENJAJAH dan sampai sekarang pun masih pakai Undang-undang penjajah dan ikut telunjuk penjajah.


Rujukan:

1 - tayibah.com
2 - Abdurrahman, Jamal (dalam bahasa Indonesia). Keagungan Generasi Salaf (disertai kisah-kisahnya). Darus Sunnah.
3 - Jalaluddin Suyuthi - Tarikh al-Khulafa (Sejarah Para Khalifah).

Aidil-adha bukan rutin tahunan..


Aidil Adha semakin menghampiri, dan kita akan disajikan dengan cuti serta pelbagai aktiviti ‘hari raya korban’ seperti kebiasaan saban tahun.
Satu perkara yang saya suka lakukan apabila sampai musim perayaan, baik Aidul Adha mahupun Aidul Fitri, adalah mengajak manusia kembali menyelami apakah intipati yang wujud di dalamnya.
Kerana saya sebagai seorang yang beriman kepada Allah SWT, sukar untuk percaya bahawa Allah SWT akan melakukan sesuatu itu dengan sia-sia. Allah, apabila Dia menetapkan sesuatu, pasti ada hikmahNya, pasti ada makna di sisiNya.
Sia-sia, mustahil sekali.
Justeru, saya ingin kita melihat semula akan Aidil Adha ini. Memperbaiki kebiasaan kita, yang mungkin telah melihatnya sebagai rutin tahunan semata-mata.
Sejarah
Semua orang, kalau menyorot kembali sejarah hari raya Aidil Adha, ia sebenarnya berkait rapat dengan satu keluarga. Yakni keluarga Ibrahim AS. Pada saya, walaupun sejarah ini diulang-ulang oleh semua orang saban tahun sehingga orang muak, saya merasakan perlunya sejarah ini diulang untuk mengingatkan kembali berkenaan pengorbanan.
Tapi, untuk saya, saya suka mengulang sejarah itu dari perspektif yang saya pelajari sendiri.
Kita melihat bahawa Nabi Ibrahim telah meninggalkan anaknya Ismail dan isterinya Siti Hajar di sebuah wadi gersang bernama Bakkah/Makkah. Dia yang sebenarnya amat sayangkan isteri dan anaknya, terpaksa meninggalkan mereka di tanah gersang itu atas perintah Allah SWT.
Itu sendiri, satu pengorbanan.
Kemudian, Nabi Ibrahim pulang ke tempatnya, yakni Palestin. Kalau anda rajin dan membuka peta, anda dapat melihat betapa jauhnya jarak Palestin dengan Makkah. Hatta saya sendiri yang pernah bermusafir dari Jordan ke Madinah, memakan masa 24 jam perjalanan dengan menaiki bas. Itu Madinah, Makkah lebih bawah lagi. Bagaimana pula zaman dahulu, yang mungkin kenderaan terpantas hanyalah unta?
Jauh jarak mereka terpisah. Dan Nabi Ibrahim tidak bersama Nabi Ismail melihat tumbesarannya.
Satu hari, Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya. Awalnya, dia menyangka itu mainan syaitan. Namun selepas mimpi itu berulang beberapa kali, maka dia yakin bahawa itu daripada Allah SWT. Isyarat bahawa itu adalah satu perintah.
Maka bergeraklah Nabi Ibrahim merentas sahara untuk menunaikan perintah Allah SWT, menyembelih anaknya.
Untuk merentas sahara, menempuh perjalanan berhari-hari, hanya untuk menjunjung satu perintah yang mengorbankan ahli keluarganya yang amat jarang dijumpai lagi disayangi, itu juga merupakan satu pengorbanan.
Ketika dia bertemu dengan Nabi Ismail yang ketika itu sudah membesar, dia bertanya kepada anaknya itu akan mimpinya. Jawapan Nabi Ismail adalah:
“Wahai ayahku, jika itu apa yang Allah suruh, maka laksanakanlah tanpa ragu-ragu”
Nabi Ismail menerima dengan lapang dada, malah menggesa ayahnya agar tidak ragu-ragu langsung dengan perintah Allah SWT. Siti Hajar pula, tidak membentak Nabi Ibrahim dengan menyatakan suaminya itu gila, tidak berhati perut dan sebagainya. Malah Siti Hajar melepaskan Nabi Ismail dengan rela hati. Sedangkan, dialah yang membesarkan, menyusukan, Nabi Ismail As.
Di situ, satu pengorbanan kita lihat di sisi Siti Hajar.
Maka Nabi Ibrahim tambah membulat tekad, membawa anaknya ke tempat penyembelihan. Diriwayatkan bahawa Nabi Ismail siap menyuruh bapanya itu mengikatnya agar dia tidak menyukarkan pekerjaan bapanya.
Ini juga, satu pengorbanan di sisi Nabi Ismail. Rela hati, menjunjung perintah Allah SWT.
Nabi Ibrahim melaksanakan tugasan itu dengan teguh hati. Pisau yang tajam dileretkan pada leher anaknya. Yang ajaibnya, pisau itu tidak lut. Diasahnya semula lalu dilakukan sekali lagi. Juga tidak lut. Begitulah berkali-kali, hingga Jibril As menurunkan Qibasy dari langit menggantikan Ismail.
Keteguhan Nabi Ibrahim, tindakannya mengasah dan mencuba berulang kali, satu lagi bentuk pengorbanan.
Dan keluarga Ibrahim seluruhnya, telah membuktikan keimanan mereka dengan berjaya melalui ujian maha hebat ini.
“Apakah manusia itu mengira, Kami membiarkan mereka berkata: Kami telah beriman, sedangkan mereka itu belum diuji?” Surah Al-Ankabut ayat 2.

Yang kita perlu perhatikan
Saya suka bertanya kepada diri saya, apakah yang membuatkan Nabi Ibrahim teguh merentas sahara semata-mata untuk menyembelih anaknya? Saya juga tertanya-tanya, apakah yang membuatkan Nabi Ismail amat tenang membiarkan dirinya disembelih oleh bapanya, sedangkan bapanya tidak membesarkannya? Dan atas sebab apakah Siti Hajar, melepaskan Nabi Ismail yang dibesarkannya itu dengan rela hati? Saya juga hairan, apakah yang membuatkan Nabi Ibrahim mencuba berkali-kali dan tidak pula menjadikan pisau yang tidak lut itu sebagai alasan untuk dia tidak meneruskan tindakannya?
Akhirnya, saya berjumpa dengan satu jawapan yang solid. Dan jawapan itu membuka mata saya berkenaan erti pengorbanan yang sebenar.
Semua kerelaan, kesungguhan, keteguhan dan ketabahan yang keluarga Nabi Ibrahim tunjukkan, puncanya adalah satu sahaja.
Kerana arahan itu adalah daripada Allah SWT. –
Tiada lain. Tidak kerana perkara lain.
Hanya dengan sebab – itu adalah perintah Allah – mereka sanggup mengorbankan apa sahaja yang mereka sayangi.
Dari mana datangnya kekuatan mereka untuk berkorban hanya semata-mata kerana itu perintah Allah?
Iman.
Keimanan mereka, keyakinan mereka bahawa Allah SWT tidak akan memerintahkan sesuatu itu dengan sia-sia, kepercayaan mereka bahawa Allah SWT itu tidak zalim, kethiqahan mereka bahawa Allah SWT itu Yang Maha Bijaksana, sangka baik mereka bahawa Allah SWT itu Maha Mengetahui, semua itu membuatkan mereka bergerak dengan teguh dan tabah, menjunjung perintah Allah SWT tanpa ragu-ragu, tanpa alasan, dan dengan bersungguh-sungguh.
Ternyata, keluarga Ibrahim As dimuliakan oleh Allah SWT atas keimanan mereka ini, sehingga mereka sanggup melakukan pelbagai pengorbanan. Maka lihatlah betapa Allah muliakan keluarga yang berkorban ini dengan kemuliaan yang tidak terhingga. Lahir daripada mereka Muhammad SAW, penutup segala nabi dan rasul, dijadikan pula pengorbanan mereka sebagai hari yang dirayakan dan wajib diingati, beberapa peristiwa dalam kehidupan mereka dijadikan manasik haji seperti sa’ie dan melontar jamrah.

Inilah sebenarnya Allah SWT hendak tunjukkan kepada kita.
Allah hendak tunjuk, betapa Dia itu tidak menzalimi hamba-hamba-Nya, dan Dia Maha Mengotakan Janji-Nya untuk membeli semua pengorbanan kita dengan kebaikan yang lebih baik berkali ganda.
“Sesungguhnya Allah itu telah membeli dari orang-orang yang beriman diri-diri mereka, dan harta-harta mereka dengan diberikan kepada mereka syurga…” Surah At-Taubah ayat 111.
Allah SWT, hendak mendidik manusia betapa, untuk mendapatkan kehidupan yang baik, perlukan pengorbanan.


Pengorbanan kita
Maka apakah yang kita telah usahakan? Apa yang telah kita sumbang? Bagaimanakah kita berurusan dengan perintah-perintah Allah SWT?
Adakah kita bersedia berkorban?
Ketahuilah tiada yang akan mampu menyaingi pengorbanan Nabi Ibrahim AS serta cucundanya Rasulullah SAW. Tetapi apakah yang telah kita usahakan? Apa yang telah kita korbankan?
Kadangkala, kita ini, masa lapang pun sukar untuk kita sumbangkan kepada Islam. Kita hanya berikan masa lapang kita untuk kerseronokan diri yang tidak membawa apa-apa makna. Duit-duit kita yang banyak, kita bazirkan menjadi najis berbanding kita berikan kepada yang memerlukan. Tenaga kita, kita biarkan mereput tanpa kita gunakan untuk Islam. Pemikiran kita, kepandaian kita, fikrah kita, kita bazirkan begitu sahaja tanpa menyumbangkannya untuk kebangkitan Islam.
Masalah ummah Islam hari ini, adalah kerana kurangnya manusia-manusia yang rela berkorban.
Kenapa?
Kerana masalah keimanan yang hilang dari diri mereka.
Mereka sukar untuk yakin bahawa Allah SWT akan membayar pengorbanan mereka, mereka sukar untuk percaya bahawa semua pengorbanan mereka ada harganya. Mereka rasa Allah itu jauh, janji-janji Allah itu jauh.
Ini menyebabkan mereka tidak rela berkorban.
Maka jadilah kes seperti Palestina. Dikelilingi saudara maranya yang kaya raya, kuat dari segi tentera, tetapi tidak mendpaat pertoilongan satu pun dari mereka. Kenapa? Kerana tiada negara yang sanggup berkorban untuk Palestin. Masing-masing ingin menyelamatkan poket masing-masing.


Penutup: Saya tak pernah rasa ini perayaan sia-sia
Saya tak pernah rasa, Allah SWT itu mengarahkan kita melakukan sesuatu yang sia-sia. Semuanya ada sebab. Tinggal kita nampak atau tidak. Itu keyakinan saya.
Allah SWT berfirman:
“Apakah kamu mengira, Kami menciptakan kamu dengan sia-sia, dan kamu kepada Kami tidak akan dikembalikan?” Al-Mu’minuun ayat 115.
Hari Raya Aidil Adha, pada saya merupakan satu checkpoint supaya ummat mendapatkan semula kekuatan untuk berkorban. Sebab itu, sejarah Nabi Ibrahim diulang-ulang supaya kita nampak asas pengorbanan – iman kepada Allah SWT.
Khilafah telah jatuh pada 1924. Dari 1924 hingga 2012, sudah 88 tahun berlalu. Sudah 88 kali ummah Islam menyambut Aidil Adha semenjak khilafah Islam dijatuhkan. Tetapi tidak berjaya meraih erti pengorbanan. Kenapa?
Kerana kita anggap ini satu perayaan tradisi, rutin tahunan yang perlu kita lalui. Lalui, dan biarkan ia pergi, sampai ia kembali lagi pada tahun akan datang sekali lagi.
Aidi Adha bukan sesuatu yang sia-sia untuk saya. Tapi saya fikir, kita telah mensia-siakan Aidil Adha kita, jika kita tidak berjaya menyelami erti pengorbanan.
Selamanya, ummah ini akan terus rosak, hancur, andai kita tidak rela berkorban untuk membangunkannya.
Maka kita kembali kepada sebuah persoalan:
“Apa yang telah kita korbankan untuk ummah?”